Parut di Atas Alis

SATU truk penuh prajurit bersenjata laras panjang tiba di warung itu bersamaan dengan satu unit minibus yang di dalamnya terdapat Agus. Dia sudah melaporkan kepada komandan yang memimpin penyerangan di kawasan kebun sawit. Komandan itu menyambutnya dengan kemarahan karena Agus dan Ester nekat berjalan di daerah asing tanpa pengawalan. Agus berkilah sebagai wartawan dia bebas pergi ke mana saja. Dia pernah berjumpa langsung dengan panglima pemberontak di sebuah hutan dan mereka memperlakukan wartawan dengan baik. Komandan tentara itu makin berang dan mengatakan selama wartawan mengikuti tentara, maka wajib mengikuti standar yang mereka tetapkan jika ingin pulang dengan selamat.

Baca juga: Darah Pertama – Cerpen Guntur Alam (Tribun Jabar, 11 November 2018)

Beberapa orang yang berada di warung kopi itu masih mengobrol atau menonton TV yang menempel di dinding. Truk yang berhenti dan tentara yang berlompatan turun dengan senjata mengahkan perhatian mereka. Tanpa dikomando, beberapa prajurit langsung berjaga di depan dan sisanya berlarian ke belakang warung. Seorang perwira muda meminta orang-orang berbaris di depan warung. Pemilik warung yang tadinya masih berdiri di tempatnya sambil menyaring bubuk kopi, tak terkecuali wajib berbaris di pinggir jalan. Bukan hanya berbaris, mereka juga diperintahkan membuka baju, melepaskan topi laken agar wajah mereka terlihat jelas, serta membuka sepatu. Barangkali tentara khawatir mereka mensimpan senjata di dalamnya. Belasan lelaki berdada hitam terlihat berbaris di bawah sinar matahari yang masih garang meski mulai condong ke barat.

Baca juga: Mengukur Perpisahan – Cerpen Sungging Raga (Tribun Jabar, 28 Oktober 2018)

Agus kemudian turun dari minibus dan diminta menunjukkan lelaki yang mengancamnya. Sungguhpun tadi Agus sudah melihat wajah lelaki itu begitu dekat, ketakutan seolah melemahkan daya ingatnya. Ketika kabur tadi, ia hanya membayangkan lelaki itu dan teman-temannya akan menyiram mereka dengan rentetan tembakan. Rasa takut membuatnya hanya bisa mengingat lelaki itu mengenakan celana jins lusuh, kemeja lusuh, topi laken warna hitam atau mungkin juga cokelat, serta sepatu bot karet warna hijau. Agus tidak yakin dengan warna sepatu sebab dia tidak melihat ke bawah, tetapi umumnya pekerja kebun sawit itu mengenakan sepatu bot warna hijau muda.

Masalahnya, hampir semua orang yang berbaris itu mengenakan sepatu bot warna hijau muda yang kini tergeletak di tanah. Agus dilanda kebingungan, bagaimana bisa mengenali lelaki yang tadi masih menyimpan KTP-nya.

Arsip Cerpen di Indonesia