Yang satu ini memang sulit dan mustahil kedengaran; barangkali cuma saya saja yang merasa dipandangi oleh pohon, padahal aslinya ia tidak melakukan itu. Tapi, entah kenapa, saat berusaha menepis pikiran itu dan saya mulai jalan ke mobil yang terparkir sejarak tujuh meter dari pohon jambu tersebut, saya seperti sedang diintai maut.
Kali ini saya tidak bisa menahan diri untuk tidak memaksa Mila percaya.
“Kamu gila, ya?” justru itu yang saya dengar.
Saya tidak gila, kata saya marah. Itu dia kenapa saya mau ajak kamu ke sana, ke rumah almarhum sahabat saya itu, yang mati disembelih dua tahun lalu.
Baca juga: Kecantikan Itu Melukaiku – Cerpen Lana Savira KD (Suara Merdeka, 09 Desember 2018)
Mila marah dan menganggap saya menjejalkan kebohongan demi kebohongan ke kepalanya agar suatu saat saya bisa selingkuh tanpa ketahuan—atau paling tidak, tanpa membuatnya protes.
Akhirnya kami putus. Dan pohon itu tetap membisiki saya sesuatu yang purba dan ganjil, serta memandangi saya di berbagai kesempatan kunjungan yang saya lakukan pada ibu almarhum sahabat saya.
Saya, tentu saja, merasa terganggu dan tidak nyaman. Tidur tidak nyenyak, makan tidak kenyang, bahkan buang hajat pun saya lakukan dengan tergesa-gesa, seolah saya sedang dikejar sesuatu, tetapi tidak tahu apa sesuatu itu. Padahal pohon jambu itu juga masih berdiri di halaman depan rumah orang yang dulu pernah jadi sahabat saya. Ia tidak berkaki—pastilah. Tak terbayang kalau pohon ajaib itu mendadak menggeliat dan menarik seluruh akarnya yang tertanam di tanah dan menampilkan wujud baru dari sebatang pohon: berkaki. Ia akan kejar saya ke mana-mana dan membisiki saya sesuatu yang mengerikan terkait kematian dengan bahasa yang bukan bahasa manusia. Ia juga memandangi saya kapan pun dan di mana pun; di tempat tidur, di mobil—sementara ia berlari menyetarai laju mobil saya, di kantor, di mini market, di rumah Mila (saya masih suka diam-diam mengupingnya dari luar jendela, sedang bernyanyi lagu sendu karena rindu memiliki kekasih yang baik).
Baca juga: Bulan Menangis di Atas Nisan – Cerpen Zainul Muttaqin (Suara Merdeka, 02 Desember 2018)
Namun, jangan berpikir saya akan kembali mengajak perempuan itu pacaran; saya sibuk dengan urusan menghindari pikiran jelek soal si pohon dan mungkin merancang rencana penyelamatan diri bila kelak diperlukan. Segala kemungkinan bisa saja terjadi, bukan? Saya sendiri tidak tahu bagaimana mulanya pohon itu berbisik. Apa hanya saya seorang yang tahu ia begitu, atau adakah orang lain yang juga tahu namun merahasiakan pengetahuannya soal ini?