Pohon Berbisik

Saya tidak tahu maksudnya dan malah lagi-lagi membayangkan pohon itu berkaki, lalu bertangan, dan akhirnya bermulut sehingga bisa mengejar dan menerkam saya. Ia pun membuat saya bermimpi buruk mati ditelan bulat-bulat oleh sebatang pohon jambu. Sangat mengerikan. Apa ini yang disebut surga? Saya tidak yakin. Surga harusnya dipenuhi hal menyenangkan seperti pohon yang dapat bernyanyi dan tidak mengejar dirimu, apalagi memangsamu.

Di kunjungan terakhir saya, ibu almarhum sahabat saya itu mulai menginterogasi saya soal sesuatu yang lain, “Kamu jebak anak saya, ya?”

Baca juga: Negeri Asap – Cerpen Angga T Sanjaya (Suara Merdeka, 04 November 2018)

Saya makin bingung. Saya bilang saya tidak menjebak siapa-siapa dan saya tidak tahu apa-apa soal penculikan beberapa warga yang akhirnya disembelih ramai-ramai. Saya sendiri kehilangan sahabat, tetapi tidak bisa melakukan apa-apa kecuali membuat perempuan tua itu merasa tidak sebatang kara di hari tuanya.

Tapi penjelasan saya dianggap bohong. Saya ingat bagaimana Mila menuduh saya sinting dan pembohong, lalu kami putus. Waktu itu saya merasa sangat terhina dan sakit hati. Tetapi kalau dibandingkan dengan perasaan saya sewaktu mendengar tuduhan ibu almarhum sahabat saya, jelas kalah telak. Di sini, di meja makan ini, di hadapan dua piring puding cokelat, saya bukan lagi merasa hina dan sakit, tetapi juga berdosa.

Baca juga: Lelaki Itu Memilih Pintu Berbeda – Cerpen Ismul Farikhah (Suara Merdeka, 28 Oktober 2018)

Saya bayangkan sebatang pohon jambu mengejar-ngejar saya. Dan ia meludah tiga kali berupa darah amis pekat ke sekujur tubuh dan seragam militer saya. Pada saat itu, sembari berusaha tidak tertangkap, saya bisa mencium kehadiran malaikat maut di dekat saya; sesuatu yang purba dan ganjil. Lalu tubuh saya dirubungi belatung-belatung serta mulai menampakkan luka-luka menganga yang sangat menjijikkan.

Saya sulit dikejar karena fisik saya amat terlatih dan bugar. Maka saya terus berlari sampai berhari-hari, berminggu-minggu, berbulanbulan, bertahun-tahun, hingga nyaris setengah abad saya terus berlari menghindari kejaran pohon jambu yang dirasuki arwah sahabat saya yang tidak terima dituduh macam-macam lalu akhirnya mati disembelih. Sesekali saya beristirahat dengan mampir di rumah-rumah gedong para kolega. Di situ saya membalut luka dan menghalau belatung-belatung tadi sekadarnya, lalu kembali berlari. Sesekali mampir ke kelab malam yang pelanggannya pria-pria berambut blonde, lalu kembali berlari. Begitulah.

Arsip Cerpen di Indonesia