Pohon Berbisik

Kepada ibunda almarhum sahabat saya, tentu saja saya tidak cerita. Mungkin saja beliau sedih dan mengira itu anaknya. Maksud saya, pohon itu dirasuki arwah anaknya yang penasaran karena penyembelihan itu tidak jelas dilakukan oleh siapa. Saya tahu bagaimana sahabat saya itu pada suatu malam kelihatan gusar. Lalu kira-kira seminggu kemudian dia diseret beberapa lelaki dan besok paginya saya tahu dia mati. Kepalanya diangkat ke sana kemari oleh orang-orang yang saya ketahui sebagai teman saya juga, tetapi di sana sangat banyak manusia dan mereka rata-rata berteriak girang.

Baca juga: Sepasang Kekasih di Atas Loteng – Cerpen A Warits Rovi (Suara Merdeka, 18 November 2018)

Saya tidak ingin menyalahkan siapa-siapa terkait kematian sahabat saya itu. Saya juga tak ingin mengungkit-ungkit masalah itu. Biarlah kisah itu hilang, karena toh saya tahu percuma mencari tahu pelaku penyembelihan di antara sekian banyak orang, yang juga melakukan hal serupa ke orang-orang bernasib malang lainnya. Sungguh sesuatu yang mengerikan bila peristiwa itu menjadikan arwah sahabat baik saya itu tidak tenang, sehingga merasa perlu merasuki sebatang pohon jambu demi menyampaikan suatu pesan.

Kematian, cuma itu yang ada di kepala saya berhari-hari, berminggu-minggu, usai mendengar bisikan si pohon serta merasa yakin dipandangi olehnya selama saya berada dalam jarak jangkau pandangnya. Lalu saya putar ulang rutinitas berkunjung ke rumah itu yang dimulai setahun setelah sahabat saya mati. Seingat saya, tidak ada gejala itu; tidak ada bisikan dan tatapan pohon. Atau ketika itu saya belum menyadarinya?

Baca juga: Gadis Itu Tak Suka Hari Minggu – Cerpen Umi Rahayu (Suara Merdeka, 11 November 2018)

Saya baru tahu kalau ibu almarhum sahahat saya menyimpan ketakutan yang sama. Beliau bilang, “Hawa buruk melingkupi rumah ini. Maut sewaktu-waktu dapat datang, walaupun saya sedang makan puding cokelat.”

Puding itu saya pesan pada seorang pembantu di rumah seorang jenderal, yang juga sahabat saya, yang biasa memberi hadiah puding untuk anak-anaknya. Saya bayar pembantu itu atas jasanya memasak puding cokelat dan saya berikan pada ibu almarhum sahabat saya yang mati disembelih dua tahun lalu, untuk kami makan berdua. Di tengah kenikmatan makan puding, kadang-kadang ibu sahabat saya bicara soal kematian, atau di lain waktu bicara soal surga dan neraka.

“Sebenarnya sudah terlalu lama kita hidup di surga, walau terasa seperti neraka.”

Arsip Cerpen di Indonesia