Rambut Api Pamela Paganini

“Niccolo Paganini. Apakah kau mengenalnya?”

“Tidak.”

“Well, kurasa kau tak perlu mengenalnya. Cukup mengenal diri sendiri,” kataku.

“Saya juga tidak mengenal diri sendiri, hehehe.”

“Oh ya? Tapi kau pernah ikut acara pencarian bakat di televisi. Bukankah biasanya mereka menganjurkan agar kita berupaya menjadi diri sendiri?”

“Tidak, tidak, hehehe, mereka menganjurkan kita agar bisa menaikkan jumlah penonton.”

Tiba-tiba aku ingin berlaku seperti Alessandro Rolla dan menjura di hadapannya. Tapi aku kira itu agak berlebihan. Lagipula serangga di kasa kembali berdenging. Sinar matahari yang dilembutkan pori-pori kain tergeletak di lantai seperti lempengan logam. Hari terasa lebih singkat, sebentar saja, aku rasa cahaya mulai meredup. Seperti juga cahaya di tahun 1828, ketika Paganini, bocah yang mulai dewasa itu, mengakhiri kisah cintanya dengan Antonia Bianchi.

Baca juga: Setan Banteng – Cerpen Seno Gumira Ajidarma (Koran Tempo, 22-23 Desember 2018)

“Saya lolos audisi pertama, makanya bisa tampil langsung di televisi. Tapi saya tidak lolos di sesi ini, cuma sedikit yang memilih,” ujarnya dengan ringan. Suaranya bersijingkat ke luar, melesat ke ketinggian, ke langit bersih tanpa awan. Seperti juga suara yang didengar oleh Antonia Bianchi beberapa saat sebelum Paganini memutuskan hubungan mereka. “Kita sudah melewati waktu yang panjang, tapi kita takkan berhasil untuk waktu yang panjang berikutnya,” begitu kata Paganini. Lelaki itu telah disergap depresi berkali-kali, ditambah oleh gaya hidupnya, sejumlah penyakit menjangkitinya silih berganti.

Aku bayangkan malam setelah pemutusan itu, Antonia Bianchi melepas penutup kepalanya. Seluruh komposisi yang pernah mereka mainkan bersama berubah jadi bunyi api yang meretak-retak. Bunyi yang memenuhi kepalanya, seakan-akan kepalanya adalah hutan gambut. Api membesar menembus tulang tengkorak, merambati helai-helai rambutnya. Seluruh rambutnya menyala. Antonia Bianchi mengambil biolanya dan berjalan ke luar rumah, melewati jalan setapak di antara kebun bunga, melewati tepian sungai, permukiman kaum pinggiran dan terus ke tengah kota tempat para borjuis menikmati waktu istirahatnya. Tepat di alun-alun ia menaiki tugu kota, lalu di sana ia mainkan biolanya. Seluruh kota tiba-tiba seperti disapu badai api. Orang-orang yang terlelap bahkan tak sempat keluar dari mimpinya ketika badai api mengubah mereka jadi debu.

Arsip Cerpen di Indonesia