Rambut Api Pamela Paganini

What if God was One of Us. Aku ingat Osborne, lagunya yang rasanya cocok diputar dalam bus kota. Aku pernah melihat ia membawakan lagu itu dalam suatu acara amal untuk korban gempa. Waktu itu ia tampil tanpa alas kaki dan bernyanyi hanya diiringi papan-kunci. Rambutnya seperti menyala di udara malam, ada bayangan api di sekitar rambut itu. Beberapa saat sebelum ia tampil, si aktor muda sudah duduk di dekatku dan berkata, “Pamela tampil sekarang,” seakan-akan itu berita kematian seseorang yang aku kenal. Tentu aku tahu Pamela Paganini akan tampil, karena itu aku berada di sana. Aktor muda itu ada baiknya aku tendang supaya sedikit lebih peka. Tetapi karena aktor muda itu, seperti juga Niccolo Paganini, tampak memiliki gejala sindrom Marfan, aku tak jadi menendangnya. Dia cocok bermain sebagai Paganini muda, mungkin rambutnya yang perlu diubah, juga dilatih mengatasi trakomanya.

Ketika Pamela Paganini memainkan nomor itu, ia tak mengingatkanku pada Osborne, ia mengingatkanku pada Antonia Bianchi. Acara amal itu berlangsung di tengah kota, sama seperti ketika Antonia Bianchi memainkan biolanya dan membakar seluruh kota. Aku menatapnya dengan teliti, pelan-pelan aku lihat api merambat di rambutnya. Api itu membesar, butir-butirnya menetes ke lantai trotoar, menyatu lalu membentuk genangan api yang meluas. Sebentar kemudian area pertunjukan sudah dibanjiri api.

Baca juga: Kebun Binatang di Dasar Laut – Cerpen Lamia Putri Damayanti (Koran Tempo, 01-02 Desember 2018)

“Bagaimana cara menghadirkan api itu di panggung?” kata si aktor muda.”Oh ya, bisa pakai video mapping ya,” lanjutnya. “Tidak,” kataku.”Kita akan pakai api betulan.” Aktor muda itu terbahak-bahak, keinginanku untuk menendangnya bangkit kembali. Pamela Paganini tidak ikut tertawa. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu. Serangga yang tadi terperangkap di kasa sudah bisa melepaskan diri. Terbang berputar-putar seperti masih kebingungan. Sesekali melesat turun mengitari kepalaku. Tahun 1840, pada hari ketika Paganini mati, seseorang yang tidak pernah disebut namanya dalam sejarah telah bersaksi bahwa dari tubuh lelaki itu keluar asap yang sesaat sebelum lenyap di udara membentuk kode-kode partitur. Cerita itu minor, dan mungkin hanya pernah didengar beberapa orang saja. Tetapi cerita itu tetap bertahan di antara berjuta-juta cerita lain yang bagai asteroid berusaha menembus atmosfer untuk bertahan di bumi. Cerita itu salah satu yang berhasil menembus atmosfer dan bertahan di bumi meskipun hanya dalam bentuk partikel sangat kecil.

Arsip Cerpen di Indonesia