Rambut Api Pamela Paganini

Aku menemukan partikel itu secara tidak sengaja ketika menonton tayangan video sains berjudul The Unseen World. Tepat saat video menampilkan gambar partikel-partikel tak kasatmata di sekitar kita, listrik tiba-tiba padam. Mesin pemutar video yang tidak bisa menyimpan daya turut padam. Layarnya hitam sepenuhnya. Aku menghela napas, kutatap layar hitam itu lama-lama seakan dengan begitu mesinnya akan menyala kembali. Persis di tengah-tengah layar, aku melihat sebintik noda. Kuhapus noda itu dengan telunjukku. Tapi noda itu bergeming. Bahkan ketika kuletakkan lagi telunjukku di atasnya noda itu kian menyembul, seolah-olah ia keluar dari dalam layar. Itu adalah butir kecil entah-apa, berpendar redup. Ketika hendak kusentuh lagi, butir itu menempel di telunjukku, lalu pelan-pelan melesap menembus kulitku dan lenyap tak berbekas.

Saat itu aku merasakan sensasi yang ganjil. Seperti berada di dalam gedung pertunjukan, di kursi penonton, di antara orang-orang asing berpakaian rapi. Di panggung, musik sedang dimainkan; 24 Caprices for Solo Violin. Dan di sana dia berdiri, Niccolo Paganini, sang virtuoso. Riuh tepuk tangan menggema di seantero ruang ketika dia menyelesaikan nomor tersebut dan para penonton berdiri dengan paras seperti baru saja mendapat pencerahan jiwa.

Baca juga: Kitab Tipu Muslihat – Cerpen Ida Fitri (Koran Tempo, 24-25 November 2018)

“Tapi api sulit dikontrol, bagaimana jika terjadi kebakaran? Lagipula akan sulit mendapat izin memakai api dalam pertunjukan,” kata si aktor muda.

“Itu tidak akan jadi masalah jika salah satu di antara kita adalah Tuhan,” jawabku sambil menatap Pamela. Aktor muda itu kembali terbahak. Entah terbahak karena perkataanku atau karena caraku menatap Pamela. Sesungguhnya aku tidak persis menatap Pamela, aku hanya menatap rambutnya. Rambut yang kembali menampakkan bayangan api. “Tapi tidak mungkin aku.” kataku sembari berpaling ke si aktor muda, “Kalau kau adalah Paganini dan Pamela adalah Antonia Bianchi, maka aku adalah iblisnya.”

“Benarkah?” ujar Pamela Paganini. Ucapanku rupanya mengusiknya. Aku lihat rambutnya mulai menyala. “Tapi bagaimana jika salah satu di antara kita benar-benar Tuhan?”

“Kita bertiga ini tampaknya tidak….”

Arsip Cerpen di Indonesia