Seorang gadis kecil yang berada dalam mimpi warga sedang menyisir rambutnya ketika badai api itu tiba. Sang warga lebur jadi debu dan gadis kecil itu terperangkap dalam mimpi. Di dalam mimpi itu ia tumbuh menjadi remaja yang mandiri. Ia menempuh pendidikan tinggi dalam bidang agama dan menghidupi dirinya sebagai penyanyi di kafe-kafe. Suatu ketika ia ikut audisi acara pencarian bintang di televisi dan hal itu mengangkat popularitasnya. Ia kemudian semakin sering tampil, baik untuk acara-acara komersial maupun amal. Aku tidak pernah melihatnya secara langsung ketika televisi menyiarkan sesinya, aku melihatnya di sebuah kanal video, ketika teman dekatnya, seorang aktor muda menunjukkannya padaku.
Sejujurnya, aku tidak terkejut dengan kemampuan bernyanyinya, tapi aku terkejut dengan namanya; Paganini. Nama itu mengingatkan aku pada dua hal; api dan biola. Lalu, bersama aktor muda itu, dia datang ke tempatku, dan selama kunjungan ia tak pernah beranjak dari tempatnya duduk; di lantai dengan punggung menempel dinding. Saat itu aku berencana menulis satu naskah teater perihal virtuoso biola itu dan tiada bukan, ketika aku melihatnya, kukira ia pantas memainkan tokoh Antonia Bianchi.”
Baca juga: Kami Naik Kereta Uap – Cerpen Yetti A. KA (Koran Tempo, 08-09 Desember 2018)
“Paganini mati karena pendarahan dalam. Kukira itu stroke, karena hipertensi. Bertahun-tahun pihak gereja menolak pemakamannya karena reputasinya yang dianggap dekat dengan iblis,” kataku.
“Apakah para musisi main biola untuk mengiringi pemakamannya?”
“Hmmm, aku tidak tahu. Tapi pastinya begitu, kau tahu, selama hidup ia sangat dihormati.”
“Kalau saya mati, saya harap ada yang mau memainkan musik untuk mengiringi pemakaman saya.”
“Oh ya? Sebuah lagu khusus?”
“Ya. Sebuah lagu.”
“Lagu gubahanmu?”
“Tidak. Joan Osborne.”