Ibuku bilang dia bukan manusia. Aku heran. Kenapa bisa malaikat itu bukan manusia? Kata pak ustaz, malaikat itu ada yang bertugas mencabut nyawa. Menjaga kuburan. Menjaga surga dan neraka. Mencatat amal baik dan buruk, dan lain sebagainya. Aku jadi bingung.
Tapi, aku percaya kalau dia itu manusia. Manusia bisa membunuh manusia lainnya. Bisa menjaga perilaku baik seperti tetanggaku yang selalu menanyakan kabarku yang selalu baik. Kalau aku nakal, tetanggaku itu juga menegurku.
Pamanku yang bernama Supri juga jaga kuburan. Katanya lagi, surga itu banyak taman dan air yang mengalir. Terus di desa sebelah ada taman dan air yang mengalir. Di situ juga ada penjaganya.
Terakhir, neraka. Neraka katanya banyak api berkobar-kobar, yang siap memakan kulit manusia. Di Api tak kunjung padam, di Desa Larangan Tokol juga banyak penjaganya. Lalu, apa yang bisa membedakan malaikat dengan manusia?
“Tidak, ibu, aku hanya ingin itu. Titik. Kalau tidak sekarang aku harap tahun depan ibu bisa memberikan kado itu untukku.”
Aku meringankan tugas ibu. Sebenarnya aku kasihan melihat wajah ibu yang semakin memelas. Ibu selalu baik. Merawatku penuh kasih sayang. Ibu tidak pernah jahat. Aku senang kalau ibu mengantarku ke sekolah. Dia ikut tersenyum jika teman- temanku menyapanya.
***
Hari ini langit berubah warna. Aku melihat warna abu- abu. Warna itu terbang dan berubah-ubah, ditambah bau amis ikan yang menyerbu hidungku.
Warna ini berasal dari alat pengebor minyak. Alat itu dekat dengan rumahku. Kemarin warga nelayan di sini sempat berkelahi dengan orang yang bekerja di alat pengebor itu. Ibuku bercerita. Mereka naik perahu nelayan dan perahu kecil. Katanya ini demi masa depan anak dan cucunya. Puluhan tahun dan ratusan tahun laut ini bakal jadi lumpur. Begitu juga katanya. Mereka bicara keras-keras. Sama seperti suara mesin. Raut wajah ibu muram saat bercerita. Seperti langit yang abu- abu.
Tapi, kata ibu, warga tidak berhasil. Mereka menyerah karena diberi janji sama ketuanya. Kesejahteraan para kampung nelayan akan diperhatikan betul katanya.
“Sekarang warga hanya diam saja. Menikmati pemberian itu tanpa tahu apa yang akan terjadi.” Suara ibu nyaris tak terdengar.