Meminta Kado Malaikat pada Ibu

“Ibu ingat bapakmu, nak!”

“Kenapa dengan bapak, bu? Dia orang baik. Dia meninggal gara- gara dibunuh Malaikat. Tuhan pasti ngasih taman dan air yang mengalir. Bukankah begitu bu?”

“Kamu benar nak. Bapakmu orang baik. Tapi ucapanmu itu mengingatkan aku pada bapakmu.”

“Ingat apa bu?”

“Bapakmu pernah mengatakan sesuatu. Waktu dia sakit keras, tepat di ulang tahunnya yang ke- 48, dia menyuruhku memanggil malaikat. Dia ingin memeluk dan berpesan agar bisa menjaga anak dan istrinya. Setahun kemudian, di ulang tahunnya yang ke-49, dia dipanggil Tuhan.”

Ibuku menangis lagi. Aku bingung mau berbuat apa. Pelukan tidak cukup membuat ibu berhenti. Aku usap semua air matanya dengan bajuku.

***

Hari-hari dan berbulan-bulan berlalu. Ibu seperti biasanya merawat dan mengantarku ke sekolah. Dua hari lagi ulang tahunku yang ke-sepuluh. Ibu tampak tenang-tenang saja. Tidak berusaha mencari malaikat yang aku minta untuk ulang tahunku kali ini.

Aku sudah menyiapkan kado untuknya. Sebuah pisau yang siap aku tancapkan di dadanya. Aku sayang bapak dan ibu. Tapi, tidak kepada seorang pembunuh. Malaikat itu harus kubunuh. Biar tidak ada orang-orang yang terbunuh lagi. Diam-diam aku menyembunyikan ini pada ibu. Sehari menjelang ulang tahunku, ibu pamit keluar. Katanya ada tamu penting dari luar kota yang ingin tahu Madura. Bagiku, itu hanya alasan ibu yang ingin mencarikan malaikat untukku.

Malam ini membuatku gigil. Angin datang dengan kencang. Hal itu membuat para penjaga perahu nelayan datang ke tepi pantai untuk menjaga perahu mereka dari ombak besar. Mungkin mereka tidak mau ada perahu yang hancur seperti tiga tahun lalu. Tiba-tiba aku butuh pelukan ibu. Ibu belum juga pulang. Aku jadi khawatir. Ia tidak menelepon di HP milik bapak untuk bilang tidak pulang hari ini.

Aku semakin gelisah. Kegelisahan ini muncul ketika aku teringat dengan malaikat pembunuh itu. Jangan-jangan, ibuku dibunuh malaikat itu.

Satu jam kemudian HP milik bapak berbunyi. Ini dari ibu. Aku angkat telepon itu dan ternyata bukan suara ibu. Aku minta bicara pada ibu. Dia hanya diam tak bersuara. Aku berteriak, “Dasar pembunuh!”. Dia tertawa lepas dan menutup teleponnya.

Arsip Cerpen di Indonesia