Mendengar cerita itu, aku jadi kasihan pada anak-anak yang berumur di bawahku. Nanti mereka menginjak lumpur. Bukan lagi pasir. Terus nelayan berhenti melaut karena ikan tidak melahirkan lagi. Kalau sudah begitu, para pemanggul ikan juga tidak bisa bekerja. Tidak bisa membayar uang SPP untuk anak- anaknya. Ibu memberitahuku kalau semua butuh uang. Aku tidak habis pikir kalau warga di sini kehilangan pekerjaan dan juga uang, tentu saja.
***
“Ibu… Kenapa ibu tidak tuntut malaikat yang membunuh bapak?”
Ibuku tersenyum. Sesekali sambil melepaskan tawa. Apa begitu cara ibu tidak sedih? Aku tidak tahu. “Ah… Meskipun aku melaporkan ini kepada Tuhan. Itu tidak akan mengembalikan bapakmu, nak. Lagian itu kan tugas malaikat. Perintah Tuhan!”
“Terus, Pak Sukirno yang tinggal di desa sebelah. Dia meninggal karena dibunuh temannya yang mencurigai dirinya selingkuh dengan istrinya. Apa itu juga perintah Tuhan, bu?”
Ibuku terus tertawa. Aku cemberut. Setiap kali aku bertanya, ibu selalu tertawa. “Itu perintah setan, nak. Bukan Tuhan!”
Aku tahu tentang setan. Kata guru ngajiku, setan ialah musuh manusia yang paling nyata. Bisa memasuki tubuh manusia dan berada di dalamnya. Kalau setan itu sudah masuk, bisa bahaya. Setan itu akan melakukan apa saja dengan manusia yang dimasukinya.
Sekarang sudah jelas. Setan itu beda dengan malaikat. Malaikat diperintah Tuhan dan setan tidak. Manusia juga diperintah Tuhan. Sama dengan malaikat. Jadi manusia dan malaikat sama.
Selama perjalanan, ibuku diam. Matanya menatap lurus ke depan. Entah apa yang dipikiran ibu aku tidak tahu. Tapi aku merasakan kalau ibu punya beban. Mungkin karena permintaanku itu.
“Ibu kenapa?”
Pertanyaan pertama tak dijawab. Ibu tetap termenung. Matanya berubah. Aku seperti melihat sungai yang disinari matahari. Pertanyaan kedua, dengan pertanyaan sama aku lontarkan. Wajah ibu memucat. Dia langsung memelukku. Dan mengelus- elus rambutku. Air matanya menetes. Urat yang berwarna hijau, yang kulihat setiap hari di pipinya itu, berubah. Memudar. Berubah menjadi abu-abu karena air matanya membasahi pipi ibu. Aku ikut menangis sampai ibuku berhenti mengeluarkan air mata. Dia terisak pelan. Sambil mendongakkan kepalaku di depan wajahnya yang sedih.