Tuah Tanah Kuburan

“Sudah selesai,” katanya tersenyum tipis. “Sekarang tinggal syarat terakhir yang mesti kaulaksanakan.”

“Terima kasih, Engku,” jawab Bahar seraya membungkukkan badan. Tangan kanannya terulur cepat dan bersemangat ketika menyambut bungkusan kain putih yang disodorkan. “Kapan aku harus menaburkannya ke rumah Sobari?”

“Malam ini juga,” jawab Engku Hamid tegas. “Tapi ingat, jangan sampai ada orang yang melihatmu. Jika sudah selesai, lekas tinggalkan rumah itu dan tunggulah hasilnya esok pagi.”

“Baik, Engku.” Bahar mencium tangan keriput lelaki uzur itu dengan penuh ketakziman. Usai memberikan segepok uang, lelaki bertubuh gemuk itu kemudian berpamitan.

***

Malam sebelum pemilihan kepala kampung Tanjung Jati digelar, Sobari berniat keluar mencari angin di beranda, tersebab suhu di dalam rumahnya terasa gerah. Namun belum sempat duduk, ia mendapati taburan tanah aneh yang nampaknya dilakukan dengan sengaja di lantai beranda. Sobari masuk kembali untuk mengambil sapu, lalu membersihkan tanah itu dengan hati-hati. Ia sengaja tidak memberitahu Ineh perihal keganjilan yang baru saja ia temukan malam itu.

Sobari mendapat firasat tidak enak. Batinnya mengatakan bahwa taburan tanah itu sengaja ditaburkan seseorang untuk mencelakakan dirinya. Ia mafhum, dan sudah bisa menduga siapa pelaku dan tujuannya. Dengan penuh ketenangan, ia membuang tanah itu ke sungai Batang Meranti di belakang rumahnya dan segera melupakannya.

Sobari yakin pelakunya adalah Bahar. Hal-hal klenik seperti itu memang akrab dengan dunianya. Sobari juga sudah mendengar desas-desus di antara orang-orang, bahwa kakak sepupunya itu sering terlihat di rumah Engku Hamid. Rasanya tak ada kepentingan Bahar menyambangi kediaman Engku Hamid, kecuali untuk meminta bantuan perihal pencalonan dirinya sebagai kepala kampung. Sobari yakin betul, itulah alasannya menabur tanah itu di rumahnya.

Bagi dirinya sendiri, dalam pemilihan kepala kampung besok pagi, ia telah menyerahkan nasib sepenuhnya pada kehendak warga. Ia percaya, jika nasibnya bagus, derajatnya hendak diangkat, maka tak ada apa pun yang bisa menjegalnya, termasuk niat jahat Bahar dan ilmu hitam Engku Hamid.

“Kemarin aku bertemu Uni Lisma di pasar Lumpay,” ucap Ineh sesaat sebelum mereka tidur malam itu. “Ia mengatakan kau tidak mungkin menang.”

Arsip Cerpen di Indonesia