Setiap kali bertemu di jalan, atau di rumah tetangga yang sedang menggelar hajatan, Bahar selalu membuang muka dan menyindir-nyindir Sobari sebagai gunting yang memotong dalam lipatan. Pernah pula, Lisma dengan begitu tajamnya menyebut Sobari sebagai orang yang tak tahu balas budi. Semua karena Sobari dianggap ingin menjegal niat Bahar menjadi kepala kampung Tanjung Jati.
Sebenarnya banyak lagi kalimat menyakitkan yang diterimanya. Namun untungnya, selama ini Sobari tak pernah terpancing untuk meladeni Bahar maupun Lisma, sehingga di antara mereka tak pernah terjadi keributan yang berujung perkelahian. Namun malam ini, Sobari terhenyak. Sekepal tanah yang tadi ditemukannya menjadi bukti bahwa sepupunya itu sangat serius ingin mencelakakannya.
Tanah kuburan, dalam kepercayaan orang-orang kampung adalah perlambang kematian. Jika seseorang mengirim tanah itu di depan rumah, maka itu artinya si pengirim menghendaki kematian. Biasanya, seseorang yang terkena guna-guna itu hidupnya akan dinaungi kesialan. Apabila ia memiliki usaha, maka usaha itu akan bangkrut, dan apabila ia sehat, maka ia akan terkena penyakit yang sulit disembuhkan, bahkan tak jarang berujung kematian.
Sobari bangun lalu duduk memeluk lutut. Ia sudah cukup lelah dan cukup bersabar menghadapi perseteruannya dengan Bahar. Sebagai adik, ia tak ingin bersikap kurang ajar dan terkesan ingin menjegal keinginan Bahar. Namun, amanat dari para tetua kampung yang memintanya maju sebagai calon kepala kampung, tidak bisa pula ditolaknya. Sebab kata para tetua, hanya dirinya yang bisa menghentikan niat buruk Bahar.
Sobari mengembuskan napas, lalu menatap lekat mata Ineh. “Aku akan menerima apa pun keputusannya besok pagi. Aku percaya, apa pun hasilnya, itulah yang sudah ditetapkan untuk kita.”
***
Pagi itu, Bahar tampil penuh percaya diri. Ia merasa tak ada lagi yang bisa menggagalkan mimpinya menjadi kepala kampung ini. Lelaki itu yakin betul bahwa dirinya pasti menang berkat bantuan Engku Hamid dan tuah tanah kuburan yang ia sebarkan tadi malam.
Sepanjang proses pemilihan suara berjalan, Sobari duduk tenang di bangkunya, sedangkan Bahar mulai terlihat gelisah. Apa yang diyakini lelaki itu sepertinya jauh meleset dari dugaan. Saat kertas suara dibongkar dan dihitung ulang, hanya nama Sobari yang terus-terusan disebutkan.