Tuah Tanah Kuburan

Sobari tertawa pelan, “Nasib bambu tak akan tenggelam. Sehebat apa pun kekuatan untuk membuatnya tenggelam, suatu saat pasti akan mengapung juga,” ucapnya tenang. “Tak perlu merisaukan hal-hal yang belum terjadi. Yang penting, kita sudah berusaha sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya. Urusan kalahmenang itu serahkan saja pada Yang Maha Kuasa.”

“Aku hanya tak suka saat ia bilang kita kualat dan tak tahu diri,” jawab Ineh dengan suara gemetar. “Aku juga heran. Tak ada yang dilihatnya dari dirimu, selain permusuhan.”

“Mereka memang sudah lama membenciku,” ujar Sobari dengan nada menyesal. “Biar saja. Bagaimanapun juga, Uda Bahar itu tetaplah saudaraku. Tak akan kubalas perlakuannya.”

“Tapi, sikap mereka betul-betul keterlaluan, Uda,” desah Ineh murung. “Kalau memperturutkan hati yang panas ini, rasanya ingin kupukul wajah Uni Lisma tadi pagi.”

Sobari tertawa pelan mendengar kejengkelan istrinya. Di bawah temaram lampu teplok yang menggantung di kamar yang berdinding gedek itu, Sobari menangkap raut jengkel di wajah Ineh. Ia sudah bisa menduga apa yang terjadi antara istrinya dan Uni Lisma. Pastilah perempuan itu menyindir-nyindir lagi, seperti yang ia alami kemarin sore, ketika tak sengaja bertemu perempuan itu di kedai kopi Mak Iroh.

“Biar saja,” ujar Sobari tersenyum. “Lagi pula, sejak dulu aku tak punya niat buruk kepada mereka, meskipun mereka sendiri sering berlaku buruk padaku.”

Sobari kemudian ingat bagaimana dulu Uda Bahar dengan serakahnya merebut harta warisan peninggalan almarhum orangtuanya. Ia masih berumur dua belas tahun ketika orangtuanya meninggal dan dirinya diasuh oleh Abak Salim, orangtua Bahar. Sebelum ia meninggal, lelaki tua itu pernah memberitahu bahwa sebidang sawah dan kebun cengkih di Bukit Mungkur itu adalah miliknya, namun sekarang kedua harta warisan itu sudah menjadi milik Uda Bahar. Entah bagaimana caranya.

Sobari tak mampu berbuat apa-apa dan terpaksa mengikhlaskannya. Lagi pula, ia merasa jasa-jasa Abak Salim telah kadung banyak ia terima, sehingga untuk bersilang-sengketa dengan Uda Bahar, Sobari merasa enggan. Sebenci apa pun lelaki itu kepadanya, tetap saja ia adalah kakak sepupunya, anak Abak Salim, orang yang sangat dihormatinya.

Ketidaksukaan Bahar kepada Sobari awalnya hanya sebatas tak saling bertegur sapa saja. Namun sekarang, menjadi berlipat ganda manakala Sobari turut mencalonkan diri dalam pemilihan kepala kampung Tanjung Jati. Jika sebelumnya permusuhan itu tidak terlalu tampak di mata warga, tapi sekarang, dengan terang-terangan, Bahar dan Lisma menyampaikan bahwa Sobari adalah musuh bebuyutan mereka.

Arsip Cerpen di Indonesia