Saat penghitungan suara selesai, Bahar dinyatakan kalah telak. Hampir semua warga kampung Tanjung Jati memilih Sobari. Kenyataan itu membuat Bahar naik pitam. Ia mengamuk sejadi-jadinya, dan berusaha menyerang Sobari. Untunglah warga dan aparat kepolisian sigap mengamankannya. Bahar tak berhasil menyerang Sobari, tersebab warga begitu rapat melindunginya, malahan ia sendiri yang menjadi bulan-bulanan.
Bahar meninggalkan tempat pemilihan itu dengan setumpuk dendam dan muka merah padam. Tak sudi ia melihat arak-arakan warga kampung yang merayakan kemenangan Sobari. Beberapa jam selepas pemilihan itu, Bahar kembali membuat kekisruhan. Ia ditangkap polisi karena menikam Engku Hamid dengan belati. Rupanya, lantaran tak berhasil melukai Sobari, Bahar melampiaskan sakit hatinya pada Engku Hamid. Lelaki tua itu dianggapnya telah menipu dirinya mentah-mentah dengan angan-angan kosong; sekepal tanah kuburan yang bertuah. (*)
Adam Yudhistira (1985) penulis asal Muara Enim, Sumatera Selatan. Cerita pendek, Cerita Anak, esai, puisi dan ulasan buku yang ditulisnya telah dimuat di berbagai media massa cetak dan online di Tanah Air. Karya -karyanya telah banyak dibukukan. Saat ini bergiat di komunitas sastra Pondok Cerita dan mengelola Taman Baca Masyarakat untuk anak-anak di kampungnya.