Danau Kristal

“Apa kau yakin? Kita tidak bisa begitu saja menggunakan kepercayaan untuk menentukan arah. Bagaimana kalau kita tersesat? Kau tahu, di gurun ini semua tampak sama. Bukit-bukit yang baru kita lalui akan serupa dengan bukit-bukit yang akan kita lalui, lagi pula jejak kita mudah hilang di pasir. Jika kita salah arah, kita tidak bisa kembali ke jalur awal.”

“Lalu? Jika kita tersesat, ya, tersesatlah. Bagiku hal yang bisa menuntun kita ke Danau Kristal adalah dengan tersesat.” Ia mengakhiri kata dengan tawa kecil.

“Gila, kau? Bagaimana mungkin kita bisa sampai di sebuah tujuan dengan tersesat. Yang namanya tersesat adalah kehilangan jalur tujuan!” Setelah mengatakan itu aku merasa bersalah. Pertama, karena aku baru saja menghabiskan tenaga untuk mengeluarkan suara keras. Kedua, karena kurasa tak pantas membalasnya dengan sebutan gila.

Baca juga: Dalam Kardus Pukul Dua – Cerpen Diego Alpadani (Haluan, 30 Desember 2018)

Rola berhenti di depanku, kedua tangannya lalu memegang pundakku. “Bukankah teman robotmu mengatakan Danau Kristal itu ada? Ya sudah … kalau danau itu ada, kita akan mencarinya.” Wajah Rola terlalu dekat. Hawa panas mulutnya terasa di hidungku. Aromanya tidak lebih buruk daripada udara di luar tubuh. Setelah berkata demikian, ia tersenyum sambil memiringkan kepala. Rola memberiku pesona.

“Sekarang kau bisa percaya arah yang kupilih?”

Aku tidak menjawab, hanya kakiku yang melangkah mengikutinya. Lagi pula tidak ada pilihan lain. Aku tidak bisa menerka arah tanpa Susan.

***

Setiap sepuluh menit berjalan, aku minum air satu tegukan. Kira-kira dalam sepuluh menit aku berjalan seratus sampai seratus lima puluh langkah. Itu salah satu saran Susan yang bisa kuingat. Ia telah menghitung suhu luar dan dalam tubuhku. Jadi, jika aku ingin tetap stabil dan terhindar dari dehidrasi, aku harus mengikuti sarannya.

Baca juga: Keluarga Pelukis Kita – Cerpen Ka’bati (Haluan, 09 Desember 2018)

Dalam satu jam, aku enam kali berhenti untuk minum, sehingga jarakku dan Rola menjadi kirakira lima belas langkah. Beberapa kali aku memberi kode untuk berhenti dan minum, tetapi ia menolak. Rola akan minum saat kakinya mulai oleng. Jika dibanding aku, ia hanya empat kali berhenti untuk minum.

Aku memandang kanan dan kiri: fatamorgana menari-nari di permukaan pasir; kaktus yang tumbuh tunggal; kalajengking sedang membuat perangkap; kuningnya terik; bayangan di sebalik bukit; dan kekosongan yang kering. Aku mulai menyukai gurun ini. Di sini aku tidak mendengar kebisingan: suara metal beradu metal; robot polisi perang tembak dengan robot penjahat; kendaraan super cepat dengan bunyi melengking; pengumuman di setiap lampu merah.

Arsip Cerpen di Indonesia