Danau Kristal

Sepertinya setelah sepuluh bulan meninggalkan kota, aku ingin membangun rumah dan tinggal di gurun ini bersama Susan. Memasak makanan dari akar Kernyptus, membuat sumber air sendiri, menanam tumbuhan, dan jika perlu merakit robot kecil sebagai anak kami, lalu aku akan memprogramnya untuk memanggil dan menjadikanku ayah dan memanggil Susan sebagai ibu.

Kami terus berjalan. Saat mulai gelap, kami memasang tenda dan beristirahat, mencari air dengan pipa khusus padang pasir, memasak akar, dan bercerita. Aku bertanya alasan Rola mencari Danau Kristal. Ia percaya bahwa ada sesuatu yang disembunyikan dari orang-orang kota, dari manusia dan robot, sesuatu yang berada di alam yang benar-benar alam. Tidak diciptakan mesin. Sesuatu yang tumbuh dan bergerak sesuai aturannya sendiri.

Baca juga: Bekas Lipstik di Bibir Cangkir – Cerpen Mashdar Zainal (Haluan, 02 Desember 2018)

Ketika kutanya dari siapa ia mengetahui Danau Kristal, ia jawab dari neneknya. “Kau tidak boleh memberitahu ini pada siapa pun, karena jika orang tahu, danau itu akan disedot dan habis,” ucap Rola meniru suara neneknya.

“Aku tidak mengerti manusia, segala hal ingin diisapnya,” gerutu Rola. “Walau cerita itu sudah lama, dan aku yakin semua orang sudah mendengar tentang Danau Kristal, aku tetap percaya danau itu masih alami. Setidaknya aku ingin menghilangkan rasa penasaranku,” sambungnya.

Saat Rola menanyakan tentang hidupku, aku menjawab sekedarnya, karena bagiku hidupku tidak begitu menarik. Aku hidup di rumah berlantai empat. Ibu dan ayah seorang profesor. Sejak kecil aku sudah lihai dalam mekanik. Ketika berusia dua belas tahun, ayah dan ibuku mati sebab ledakan di tempat kerja mereka. Karena kesepian, aku merakit robot untuk menemani. Semua pengetahuan yang ada di komputer ayah dan ibu kumasukkan ke data robot itu. Hidupku terbantu dengan kehadiran robot yang kuberi nama Susan itu.

Baca juga: Jatah Air Mata – Cerpen Agus Salim (Haluan, 25 November 2018)

“Lalu, apa yang kau lakukan di gurun ini, Lernert?”

“Entahlah. Aku bosan di kota.”

Setiap malam aku tidur di tenda, dan Rola di luar. Ia tidak memiliki tenda dan hanya selimut tebal yang menggulung tubuhnya. Aku selalu meletakkan kepala Susan di dadaku. Karena saat itu aku merasa Susan menemani.

***

Perjalanan sudah mencapai hari ke dua puluh empat, kami belum menemukan apa-apa, tidak baterai tidak juga Danau Kristal, sampai pandanganku menangkap Rola melambaikan tangan. Ia seperti mengatakan sesuatu tapi suaranya tidak terdengar. Apakah ia menemukan Danau Kristal? Aku berlari mendekatinya.

Arsip Cerpen di Indonesia