Danau Kristal

Hawa tubuhku menjadi panas saat ia memeluk begitu erat. Aku mengubah arah menghadap Rola. Aku melihat wajahnya. Saat itu, tubuhku seperti dipenuhi ribuan laron. Mereka terbang ke sana-sini mencari jalan keluar. Saat tiba waktunya, laron-laron itu kemudian mendekati kerongkongan. Mereka terbang keluar dari mulutku dan masuk ke mulut Rola, dan terbang lagi di antara keduanya.

Malam itu, laron-laron, ribuan laron, bermigrasi dari tubuhku ke tubuh Rola. Mereka menemukan cahaya di dalam dirinya.

Baca juga: Yang Ditinggalkan – Cerpen Delvi Yandra (Haluan, 28 Oktober 2018)

Setelah itu, kami tertidur. Rola membiarkan kepalanya bersandar di dadaku. Dan aku membiarkan suhu dingin dan hangat menyatu.

***

Panas tenda membangunkanku. Aku duduk. Gerah. Keringat mengalir di dadaku. Setelah beberapa saat, aku menyadari Rola tidak di dekatku. Di sebelah kiri, kepala Susan menengadah ke arahku. Aku dihantam perasaan bersalah. Apa yang terjadi tadi malam? Apakah Susan melihat? Apa yang telah kulakukan?

Aku keluar tenda dan berteriak memanggil Rola. Tidak ada tanda-tanda. Aku menyisir daerah sekitar. Tetap tidak ada. Aku kembali ke tenda. Aku tidak melihat barang-barang Rola. Aku duduk di depan tenda untuk memikirkan perputaran semesta yang terjadi saat ini.

Baca juga: Rumah Pemusnah Kenangan – Cerpen Fitri Manalu (Haluan, 21 Oktober 2018)

Teringat baterai, aku beranjak ke tumpukan tabung. Mencari sana-sini apakah ada yang bisa kugunakan untuk Susan. Tanganku bergerak otomatis mengobrak-abrik tumpukan itu, tetapi pikiranku diselimuti Rola. Aku menjadi tidak semangat untuk mengetahui di antara tabung itu ada listrik yang berguna sebagai energi bagi Susan atau tidak. Maka kuhentikan mencari, duduk menghadap entah ke arah mana.

Terik menekan ubun-ubun. Bulir keringat mengalir di punggung. Angin membawa debu dan mengembus telingaku. Tubuhku terasa berat. Pasir menelanku perlahanlahan. Aku terbaring, menghadap matahari, membiarkan panas menjalari sepenuh tubuhku. (*)

 

Cerpen ini merupakan adaptasi tidak setia dari film berjudul Everything Beautiful Is Far Away (2017) karya sutradara Pete Ohs. Muhaimin Nurrizqy tinggal di Padang. Sedang menyelesaikan studi di jurusan Sastra Indonesia FIB Univ. Andalas.

Arsip Cerpen di Indonesia