Danau Kristal

“Lernert! Banyak sampah mekanik di sini…” Setelah cukup dekat aku baru bisa mendengar ucapannya.

Jarinya menunjuk ke bawah bukit. Di sana, berserakan sampah mekanik. Mungkin komponen robot-robot yang hancur. Kami mendekat dan memperhatikan. Rola ke kanan sedangkan aku ke kiri. Barangkali ada baterai yang masih bisa digunakan.

“Baterai itu seperti apa, Lernert?”

“Baterai berbentuk tabung. Kebanyakan berwarna transparan dengan jaringan yang meliuk di dalamnya. Tapi ada juga yang berwarna gelap dan panjang. Jika kau guncang akan terdengar bunyi seperti pasir. Kau juga bisa memperhatikan kedua kutubnya. Positif dan negatif. Baterai yang masih bagus akan terasa berat, kira-kira setengah satu kilogram.”

Baca juga: Secangkir Kopi – Cerpen Catherine Lacey (Haluan, 11 November 2018)

“Terlalu rumit. Semua yang berbentuk tabung akan kukumpulkan.”

“Baiklah.”

***

Matahari menguning. Kami berhasil mengumpulkan setumpuk benda berbentuk tabung. Dari yang kulihat, Rola mengumpulkan semua yang berbentuk tabung, dan tentu saja tidak semuanya adalah baterai. Sepertinya perlu waktu lagi untuk memilah tumpukan barang-barang itu.

“Bagaimana? Apa semua ini cukup?” tanya Rola

“Mungkin saja. Tapi dari yang kau kumpulkan, tidak semua adalah baterai.”

“Sial! Maafkan aku Lernert.”

“Tidak masalah. Tapi sebelum benda-benda ini kita cek satu per satu, bagaimana kalau kita pasang tenda dulu. Sudah mulai gelap dan udara mulai dingin.”

“Baik.”

Baca juga: Kabar dari Australia – Cerpen Oxandro Pratama (Haluan, 04 November 2018)

Aku berbalik mengeluarkan perangkat tenda dan memasangnya. Bintang muncul seperti butiran-butiran kristal. Ketika melihatnya, perasaanku tenang. Aku merasakan udara dingin masuk ke paru-paru.

Ketika aku berbaring untuk tidur, Rola masuk ke tenda. Ia mengigil. “Bolehkah aku tidur di sini? Di luar udara begitu dingin,” pintanya. Aku memandangnya beberapa saat. Karena kasihan, aku berbagi kasur dengannya.

“Bolehkah aku memelukmu Lernert?” Rola langsung memelukku tanpa menunggu jawaban. Malam ini udara memang terlalu dingin, aku bisa merasakan dari hawa tubuh Rola.

“Bagaimana kau bisa selamat sampai sekarang jika udara begini tidak bisa kau hadapi?” tanyaku. Rola tidak langsung menjawab. Ia kesusahan menahan gigil.

“Biasanya aku membuat unggun …”

Arsip Cerpen di Indonesia