Dadaku berdebar hebat. Bulu kudukku berdiri meremang. Apakah ia orang sakti? Ataukah aku hanya terjebak mimpi? Saat kucubit pipi, ini nyata.
***
ENTAH mengapa belakangan aku justru ingin sekali melihat kehadiran lelaki itu lagi di kompleks perumahan ini. Pengobatan demi pengobatan yang telah kujalani, yang justru semakin menguatkan vonis seorang dokter bahwa umurku hanya sisa tiga bulan, membuatku ingin nekat mencoba meski toh nantinya sia-sia.
Tepat di saat memasuki hari-hari yang tanggalnya kulingkari, lelaki itu kembali datang di tempatnya seperti biasa.
“Karena aku tahu, kau butuh aku,” ujarnya setelah aku mendekat untuk berbasa-basi.
Baca juga: Parut di Atas Alis – Cerpen Ayi Jufridar (Tribun Jabar, 23 Desember 2018)
“Aku hanya ingin mencoba. Bukankah ikhtiar itu adalah pertanda bahwa kita masih ingin hidup?”
Ia hanya tersenyum.
Lalu kutanyalah harga. Aku hampir menganga ketika ia menyebut lima juta rupiah per satu butirnya.
Aku terenyak sebentar. Dalam sekian menit puluhan pertanyaan berkelebat dengan cepat. Apa harga yang mahal itu ia buat berdasar khasiat ataukah sekadar memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan? Jikalau harga per butirnya semahal itu, kenapa penampilan dan cara dagangnya tak seperti layaknya orang kaya betulan? Di mana pula tempat ia memproduksi pil-pilnya itu?
Baca juga: Seperangkat Alat Teror – Cerpen Eko Triono (Tribun Jabar, 09 Desember 2018)
Tanganku telanjur menerima uluran tangannya sebelum puluhan pertanyaan lain menyerbu dan melumpuhkan keinginanku. Kuterima sebutir pil itu dengan perasaan bahagia yang absurd. Semuanya terasa ringan meski aku telah kehilangan lima juta untuk hanya sebutir pil. Sebelum kemudian kejadian aneh itu terulang lagi. Ia kembali menghilang dengan tiba-tiba.
Apa jangan-jangan ia malaikat?
***
PAGI harinya aku bangun dalam kondisi segar bugar. Di teras rumah kuhirup napas dalam-dalam. Saat melihat langit, bibirku langsung tersenyum, ingin melafalkan beribu rasa syukur. Meski di salah satu sudut hatiku justru dipenuhi kelebatan caci maki terhadap dokter yang sok tahu itu. Cuih! Ilmumu tak lebih dari sekerlip bintang di bentangan langit. Mbok, ya, jangan sombong, Dok! Kau bahkan tak tahu apakah umurmu lebih panjang dariku!