Pil Penambah Umur

Saat mobil yang membawa tubuhku hendak berangkat ke kantor seperti biasanya, seseorang berpenampilan dekil sempat menghentikan laju kendaraan pribadiku. Kukira dia si penjual pil penambah umur yang misterius itu. Tapi ternyata bukan. Ia mengaku sebagai tukang tambal ban yang posisinya tak jauh dari kantorku.

“Saya hanya ingin menyampaikan beribu terima kasih untuk Bapak,” ujarnya sembari membungkuk-bungkuk.

“Terima kasih atas apa?” sahutku sembari mengingat-ingat wajahnya. Sepertinya iya, dia memang tukang tambal ban yang pernah hampir kugusur tempat kerjanya lantaran hanya menambah kumuh kompleks perkantoranku.

“Jikalau bukan lantaran bantuan Bapak, tentu barang-barang kami sudah disita oleh penagih utang itu,” ia menciumi tanganku.

Baca juga: Sinden Sunyi – Cerpen A. Warits Rovi (Tribun Jabar, 02 Desember 2018)

Aku kacau sejenak sebelum kemudian menemukan dugaan kuat. Lelaki penjual pil penambah umur itu!

Hingga duduk di kursi kerja aku masih saja memikirkan motif lelaki aneh itu. Saat kuputuskan untuk mencari tahu tentangnya dari beberapa anak buah dan kenalan, hasilnya juga mengecewakan.

“Aku memang pernah ditawari semacam pil kesehatan olehnya. Tapi aku tidak tertarik untuk beli. Memangnya ada apa kau tanyatanya tentang dia?” jawab Hendra, tetangga satu kompleks perumahan. Dari istrinyalah aku pertama kali mendengar tentang lelaki penjual pil penambah umur itu.

Tampaknya memang harus seorang diri kuhadapi rentetan hal absurd ini.

***

Baca juga: Siluman Sungai Citarum – Cerpen Eriyandi Budiman (Tribun Jabar, 18 November 2018)

PAGI berikutnya ketika masa kerja pilku sudah habis, ia muncul lagi di tempat seperti biasanya. Seolah-olah ia bilang, kau harus beli pil ini lagi untuk memperpanjang umurmu.

“Apa aku harus beli pilmu lagi?” akhirnya kuutarakan juga pertanyaan itu tanpa basa-basi lagi.

“Terserah dirimu. Kau juga memiliki hak atas dirimu sendiri. Tapi aku tetap menyarankan, jika kau ingin panjang umur, belilah pil ini.”

“Lima juta lagi?”

“Kali ini satu pilnya sepuluh juta.”

“Kenapa harganya naik?” aku hampir naik pitam.

Ia malah hanya mengedikkan bahu. Hanya. Seolah begitu percaya diri bahwa aku pasti akan membeli pil itu lagi.

Arsip Cerpen di Indonesia