Dan ia memang tidak keliru. Kali ini entah mengapa aku masih memercayai ucapannya. Lagi-lagi kudapati perasaan bahagia yang absurd setelah mengulurkan uang dan menerima pil itu lagi.
“Uang itu, apa benar kau lalu memberikannya kepada orang lain?” tanyaku sebelum berpisah. Oh, hanya sepuluh juta. Itu masih belum seberapa dengan penghasilanku per bulan meski jika lama-lama seperti ini terus bisa membuatku sakit kepala berkepanjangan.
Tiba-tiba ia menatapku tajam. “Urusanmu adalah urusanmu, urusanku adalah urusanku. Kerjakan apa yang seharusnya kaukerjakan, dan aku pun akan mengerjakan apa yang seharusnya kukerjakan,” jawabnya dingin, dan sama sekali tak menuntaskan rasa ingin tahuku.
Baca juga: Darah Pertama – Cerpen Guntur Alam (Tribun Jabar, 11 November 2018)
Meski di pertemuan kali itu sosoknya tak menghilang secara misterius lagi (ia berjalan tenang hingga lenyap ditelan sebuah gang sempit di kompleks perumahanku), bagiku ia tetaplah seorang yang penuh teka-teki.
Dan anomali itu pun berulang lagi. Pagi harinya ketika hendak berangkat kerja, lagi-lagi kendaraanku dihentikan oleh kedatangan—yang kali ini adalah tukang sayur yang pernah menjadi langganan istriku (sebelum kemudian ia lebih senang pergi ke supermarket yang baru saja dibangun di dekat kompleks perumahan kami). Tanpa hujan tanpa angin lelaki itu memburu dan menciumi tanganku sembari bertubi mengucap terima kasih.
“Lantaran bantuan Bapak, anak saya tertolong di rumah sakit…,” si penjual sayur menjawab pertanyaanku.
Aku pun kembali kacau. Ini sudah keterlaluan. Jangan-jangan aku memang telah dikibuli dan dikerjai. Mengingat kebijakan baru yang baru saja kuterapkan untuk perusahaanku; tidak menerima permintaan sumbangan tak resmi dalam bentuk apa pun lantaran aku khawatir dana itu hanya dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi belaka.
Baca juga: Mengukur Perpisahan – Cerpen Sungging Raga (Tribun Jabar, 28 Oktober 2018)
Maka ketika pertemuan berikutnya, aku pun mulai ambil sikap.
“Sepertinya aku tak akan membeli pilmu lagi.”
“Kenapa?” kami bertemu pandang. Entah mengapa seperti hanya ada kekosongan di dalam matanya. Bahkan reaksi kekecewaan.
“Kini aku berpikir, kau dan dokter sebenarnya bukanlah penentu panjang pendek umurku. Kalian hanya sama-sama memanfaatkan ketakutanku hanya demi kepentingan kalian masing-masing.”
Ia malah tertawa, “Kau meremehkan ilmu dokter yang sudah punya pengalaman berahun-tahun itu. Kau pun bahkan meremehkan pertolonganku. Kini, apa yang bisa aku lakukan?”