Tertindas Waktu

Aku kembali berkutat pada pekerjaan yang telah tujuh bulan ini aku tekuni. Dengan baju apron lusuh, Google, sepatu boots navy, dan sarung tangan isolator tebal, aku mulai menyambung bagian-bagian untuk merangkai mesin waktu yang telah berhasil 70%.

“Hei, Bro, apa kau membutuhkan logam aluminium dan nanoteknologi baru? Kamp kita kedatangan kiriman dari Prancis hari ini.” Pria berkulit cokelat dengan perawakan garang dan baju tanpa lengan langsung menerobos rumahku tanpa permisi, aku dapat mengenali suaranya tanpa melirik.

“Ayolah, Ten, ketuk pintu dulu. Aku sedang bermain dengan api, jangan coba membuat tanganku menghilang dengan membuatku terkejut.” Api putih yang berkobar dari mesin di tanganku masih menyala. Tanpa menghiraukan Tendy, dua logam setengah lingkaran telah menyatu membentuk lingkaran dengan diameter 2,5 meter. Pintu masuknya sudah siap.

Baca juga: Arwah Titisan – Cerpen Destya Tika Ananta (Radar Banyuwangi, 09 Desember 2018)

“Kuperhatikan kau selalu menggunakan api putih. Bukankah itu api akibat reaksi fusi matahari? Api itu hanya bisa didapat menggunakan alat di perusahaan ‘La Teqno’-mu.” Belum sempat Tendy menyesaikan celotehnya, telingaku sudah panas.

“Ten, kau selalu bertanya hal yang jawabannya sama. Bukankah selalu kukatakan semua alat itu aku yang menciptakan? Aku masih bisa membuatnya kembali dengan mudah.”

“Oke oke… aku tau kau profesor ulung.”

“Tutup pintu! Jangan merusak engselnya lagi!”

Otot lengannya yang kekar sering kali menutup pintu rumahku dengan kasar, membuatnya seketika ambruk. Untunglah dia temanku satu-satunya yang selalu membantuku di sini. Dia masih aman dari amarahku.

***

Baca juga: Purnama di Pantai Boom – Cerpen Ahmad Zaini (Radar Banyuwangi, 02 Desember 2018)

Empat bulan yang sepi berlalu tanpa kurasa.

Masih tidak percaya apa yang ada di hadapan kami, aku dan Tendy tetap mematung ke arahnya.

“Apa sudah 100%?”

“Aku yakin masih 97%.” Tendy menolehku dengan satu alisnya terangkat.

“Aku belum mencobanya dan belum membuktikannya. Namun setelah hal itu terjadi, akan menjadi 100%,” ucapku dengan kepercayaan diri yang tinggi.

Arsip Cerpen di Indonesia