Tertindas Waktu

Getarannya berhenti. Sampaikah? Di luar tabung terlihat sangat gelap. Jujur saja, aku takut keluar. Takut jika impianku hanya sekadar angan. Takut yang terjadi tak sesuai harapan. Takut semua hanyalah khayalan. Lalu aku terluka dalam ilusiku sendiri.

Aku mencoba mengatur napas dan detak jantung. Pintu terbuka. Ternyata aku berada di ruang bawah tanah rumahku. Aku melangkah ragu. Sekian detik kemudian kupercepat langkah kakiku menuju kamar anakku. Aidan’s Private Room.

Perlahan tapi pasti kubuka pintu kamarnya. Aku melihatnya, ia tengah tertidur pulas di ranjang. Apa ini mimpi? Apakah ilusiku semata? Tidak! Dia memang Aidanku. Aku berlari memeluknya.

“Ayah? Ada apa? Bukannya kau tadi pergi ke kantor? Kenapa cepat sekali datangnya?” Ia terbangun kaget dan bertanya dengan polos. Aku semakin memeluknya erat. Takut ia tiba-tiba menghilang.

Baca juga: Jam Kosong – Cerpen Ahmad Zaini (Radar Banyuwangi, 04 November 2018)

Aku menjadi sosok ayah yang lemah saat ini. Air mataku begitu deras, tenggorokanku tercekat dan isakanku mulai terdengar nyaring.

“Ayah ada apa?” Aku menggeleng dan tetap mendekapnya erat.

“Aidan, Ayah minta maaf. Maaf tak bisa membahagiakanmu, maaf. Kau sangat berarti untuk Ayah. Tak sia-sia perjuangan ibumu saat melahirkanmu hingga ia mempertaruhkan nyawanya. Jangan pergi lagi. Ayah begitu hancur tanpamu, Nak. Kau satu-satunya harta yang aku miliki.”

Aku mulai melepaskan pelukan yang mungkin membuatnya sesak. Kurengkuh kedua pundaknya dan menatapnya wajahnya lekat. Wajah yang selalu ceria ini sangat kurindukan. Ia menyentuh daguku pelan.

Baca juga: Hikayat Kota Kabut – Cerpen M. Arif Budiman (Radar Banyuwangi, 28 Oktober 2018)

“Hahahaha, baru kemarin aku membantu ayah cukur, ehh sekarang sudah gondrong lagi.”

Ah, putra 8 tahunku ini begitu polos. Aku hanya mengangguk dan sesegera mungkin mengemasi beberapa pakaiannya. Aku tau Aidan sangat bingung, tapi ia tidak bertanya sepatah kata pun. Aku menggandeng tangannya erat menuju ruang bawah tanah dan segera membawanya pergi dari sini.

“Wah, Ayah, apa ini alat canggih buatanmu yang baru? Wah, seperti mobil-mobilan. Keren. Ayahku memang hebat!” Ia begitu antusias dan memamerkan deretan gigi putihnya.

Aku menyuruhnya duduk di kursi dan aku berdiri di belakangnya. Aku akan membawanya bertemu dengan Tendy.

Arsip Cerpen di Indonesia