Tertindas Waktu

Aidan tampak begitu semringah. Tangan kirinya tak melepaskan genggaman tanganku sama sekali. “Aidan, Ayah akan membawamu jalan-jalan. Kamu pasti suka.”

“Asyiiik. Aku akan pergi bersama Ayah!” ia berteriak dengan lantang. Mataku memanas kembali, rasanya aku ingin menangis. Masih tak percaya siapa yang sekarang bersamaku. Alat ini kembali bergetar, dan kami menelusuri waktu bersama menuju 1 tahun yang akan datang.

***

“Ayah? Apa kita sudah bisa keluar? Aku tak sabar bermain denganmu. Sudah lama kita tak main petak umpet.” Aku menggendongnya, tangan kananku membawa tas ransel miliknya. Kami keluar dari mesin waktu.

Baca juga: Usia Usai – Cerpen Kunglhe Fhreya (Radar Banyuwangi, 21 Oktober 2018)

Selangkah, dua langkah. Aku kembali ke pulau ini. Suasana pantai menyambut kami.

“Ayah, terima kasih telah mengajakku ke sini. Aku suka pantainya.”

Aku memandang Aidan, ada yang aneh. Tubuhnya seolah membias, namun ia tetap dengan tawanya. Aku sangat panik.

“Ayah adalah ayah terhebat sedunia!” Perlahan ia lenyap dari gendonganku. Aku membuang kasar ranselnya dan berbalik mencari ke tabung waktu. Kosong. Aku berlari ke sana kemari meneriakkan namanya.

“Aidannnn, Aidannnn! Ke mana kamu? Aidannnnnn! Ayah belum memulai permainan petak umpetnya. Ayolah keluar!”

Baca juga: Jampi-Jampi Warisan Leluhur – Cerpen Mawan Belgia (Radar Banyuwangi, 14 Oktober 2018)

“Aidan!!!” Aku berteriak dengan frustasi. Ia tak ada, ia menghilang.

Aidanku tak kembali.

Aku tertunduk. Pasir hangat ini tak lagi aku sukai. Aku meraih ranselnya dan menarik paksa sepotong bajunya. Aroma tubuh Aidan menyeruak. Langitku kembali mendung, dan hujannya kembali terurai nyata.

Aidan, Ayah gagal. Aku tak bisa mengembalikanmu. Mungkin sesuatu yang hilang harusnya memang tak kembali, atau sesuatu yang telah lalu harusnya tak diungkit lagi. Dan memang pada dasarnya hidup tak menentu pada satu hal di masa lalu. Aku terlalu berpacu untuk merengkuh yang telah usai yang berakibat menyakiti diriku sendiri. Luka ini begitu nyata. Aku kehilanganmu lagi. (*)

 

Jihan Nabilah Yusmi. Siswa SMAN 1 Glagah, Banyuwangi.

Arsip Cerpen di Indonesia