Hanya selang beberpa hari, kuterima surat elektronik darinya. Sangat cekak pengantarnya, “Selamat berjuang, ini kritik atas ceritamu seperti yang kauminta (terlampir).”
Lampirannya berupa tabel dengan nomor urut mengenai kata yang salah dan bagaimana seharusnya, kesalahan penulisan ejaan, bagianbagian yang seharusnya dipotong atau dihapus, dan bagian-bagian yang seharusnya justru dikembangkan. Benar-benar situasi yang bagus. Inilah yang kutunggu-tunggu.
Lalu kukirim balasan, ucapan terima kasih, dan coba meminta sarannya, tema apa atau syukur jika dapat diberi judul yang menarik untuk sebuah cerpen, yang, “Jangan katakan bagaimana aku mesti mengembangkannya. Cukup beri aku tema, atau judulnya saja.”
Baca juga: Secangkir Glühwein untuk Darda’il – Cerpen K.Y. Karnanta (Jawa Pos, 23 Desember 2018)
“Ciuman.”
“Ciuman yang mana?”
“Yang paling menarik untuk kauceritakan.”
Sialan! Ini orang mau memberikan bimbingan menulis atau sedang memancing, setelah beberapa pekan belakangan kami semakin sering terlibat percakapan daring? Sudah sampai padanya keterangan bahwa hampir lima tahun aku menjanda. Dan ia laki-laki yang masih sempurna.
Ciuman? Menciumi bayi yang kujaga, itu terlalu biasa. Atau ciumanku untuk ibu tercinta ketika aku datang atau hendak pergi kembali mengais rezeki di negeri orang, apanya yang mau diceritakan? Ciuman laki-perempuan dewasa, itu hal yang sedang ingin kulupakan, dan malahan diminta untuk menceritakannya? Baiklah, ini sekadar cerita, saya boleh dan malahan harus mengkhayalkannya. Tetapi, bagaimana aku bisa berkhayal tanpa melibatkan diriku sendiri?
Aku belum mengatakan padanya, betapa besar obsesiku untuk menjadi seorang penulis, menjadi pengarang, perempuan, yang diperhitungkan. Itu sudah kukatakan kepada seorang jurnalis di Negeri Beton ini dalam wawancara hampir setengah jam untuk program tayangan televisi mengenai para pekerja migran yang dianggap berprestasi. Saat wawancara, di depan kamera, kutunjukkan pula beberapa cerpen dan tulisan opiniku yang dimuat beberapa media berbahasa Indonesia yang dicetak dan diedarkan khusus di kalangan kami, para pekerja migran asal Indonesia. Aku sudah mengumumkan kepada dunia bahwa aku ingin menjadi pengarang terkenal. Ahai. Dan itulah yang mendorongku untuk terus belajar, dan menggali pengetahuan dari apa dan siapa saja. Maka, dalam hal ini, bila ada senior yang mau mengajariku bagaimana mengarang itu sebenarnya, aku berharap ia tulus memang mau mengajariku.