Dari Ciuman ke Tiang Gantungan

Ini benar-benar tugas yang sangat berat, membeber cerita tentang sesuatu yang ingin kulupakan: ciuman. Sudah hampir sejam aku bengong di dalam kamar, di depan komputer. Lalu berkelebat peristiwa ini, yang terjadi kira-kira tiga tahun lalu:

Aku sedang suntuk membaca sebuah novel ketika ruang tamu mendadak berisik. Situasi semakin tidak baik ketika yang tadi sekadar berisik melonjak jadi kegaduhan. Ibu marah besar kepada Dion.

“Apa yang kamu lakukan, Nak! Sungguh kamu telah mempermalukan keluarga kita. Ayah gadis itu menemui ibu, kemarin. Dia melihatmu mencium gadisnya di teras. Itu benar, bukan?” ucap ibu keras dan berat menahan emosi.

“Bukan begitu, Bu.”

“Hah, bukan begitu, bagaimana? Apakah ayah gadis itu melihat hantu?”

Baca juga: Makplaaas, Tiba-Tiba Lupa – Cerpen Edi A.H. Iyubenu (Jawa Pos, 11 November 2018)

“Bukan aku menciumnya, yang lebih tepat adalah… kami berciuman, karena kami saling mencintai,” Dion, adikku itu berkelit, membela diri.

“Ibu tidak mau dengar alasan apa pun. Perbuatanmu tetap saja memalukan dan melanggar tatakarma,” ibu semakin emosi.

Aku pun memutuskan keluar kamar untuk berupaya melerai mereka.

“Baiklah, jika tertangkap berciuman memang salah, besok-besok lebih baik tertangkap tawuran saja,” ucap Dion sambil berlalu.

“Dion, keterlaluan kamu,” suara ibu meninggi.

Aku mendekatinya, dan menuntunnya untuk duduk. “Sudahlah, Ibu , tidak perlu emosi begini,” ucapku mencoba meredakan emosinya.

Baca juga: Balung Kere (Bagian 2-Habis) – Cerpen Beni Setia (Jawa Pos, 04 November 2018)

“Manusia memang lebih menghargai kekerasan, seorang pria merasa lebih bangga jadi petarung daripada seorang pecinta. Aku menyukainya, mencintainya dan menciumnya sebagai ungkapan sukaku dan ibu marah besar. Ya, Tuhan, sebenarnya aku hidup di zaman apa?” Dion mengoceh sambil mengambil jaketnya lalu melangkah pergi. Nafas ibu kian sesak dipenuhi emosi, dan aku kalangkabut menenangkannya.

Ketika ibu telah terlelap, aku telepon Dion untuk pulang dan meminta maaf. Bagaimanapun dia tidak boleh membuat ibu cemas. Aku masuk ke kamar dan merenungkan pemberontakan adikku yang telah beranjak dewasa itu. Benar, mereka selalu mempersalahkan etika berciuman namun tidak keberatan dengan adegan kekerasan.

Kuceritakan kemarahan ibu itu melalui percakapan telepon kemarin, kepada pengarang yang memintaku berkisah tentang ciuman. Sepertinya ia antusias mendengarnya. “Nah, itu bisa jadi bagian dalam cerpen yang akan kautulis, mengenai ciuman itu!” usulnya.

Arsip Cerpen di Indonesia