Di sisi lain, andai pun dia punya maksud-maksud tertentu, memancing-mancing untuk menggugah syahwat perempuanku—yang sesungguhnya tak pernah tidur ini— apalah dayaku? Pasrah? Itu akan membuatku lengah. Itu akan membuatku terjerumus ke dalam jurang yang sangat dalam pada detik-detik, mungkin, ketika aku sudah berada di jalur yang benar dan semakin dekat dengan apa yang sejak lama kubayangkan sebagai keberhasilan.
Baca juga: Gadis Kamarian, oh Gadis Kamarian (Bagian-1) – Cerpen Benny Arnas (Jawa Pos, 02 Desember 2018)
Jika sampai lengah, aku pasti akan menanggung kerugian yang amat besar sebab akan semakin lama atau bahkan bisa tak sampai di tujuan. Kerugian yang nyata dan tak akan pernah terbayar adalah, ibu pasti akan sangat terpukul. Di usianya yang makin renta, kini, ia tak akan mampu menerima pukulan seberat itu. Hanya gara-gara sebuah ciuman? Ya, walau hanya sebuah ciuman. Ibu sangat keras soal moral asmara. Setiap ada peluang, ketika ada berita kekerasan seksual di televisi misalnya, selalu meluncur peringatan kerasnya. Katanya, berciuman itu bagaikan berdiri di puncak karang atau di bibir jurang ketika angin bertiup kencang. Lalu, ini yang sering dikatakannya dan mengkristal di relung ingatanku, “Jika kalian sampai hamil di luar nikah, penyelesaian terbaik bagiku ialah gantung diri!” Ketika adikku yang perempuan juga menimpali, “Jika adik yang melakukannya, dan perempuannya sampai hamil?” jawab Ibu, “Ia bukan anakku lagi. Haram baginya menginjakkan kaki ke rumah ini.” Padahal Dion, si bungsu itu, dialah anak laki-laki satu-satunya dan satu-satunya laki-laki di dalam keluarga kami sepeninggal ayah.
Aku tahu, itu bukan peringatan biasa. Itu bukan ancaman kosong. Ibu mengatakan begitu, setelah menunjukkan betapa ia lebih memilih beban hidup yang teramat berat, berpuluh tahun, sendirian. Baru beberapa tahun memboyong kami bertransmigrasi, ayah meninggal. Ibu memilih jadi transmigran gagal, kembali memboyong kami ke kampung halaman. Sebagai perempuan menjelang empat puluhan, tentu masih sangat mungkin bagi ibu untuk mendapatkan suami baru. Tetapi, ibu memilih tetap menjadi orangtua tunggal bagi kami. Bahkan, setelah berkali-kali kami mendorongnya untuk menikah lagi agar tulang punggung keluarga menjadi lebih kokoh. Setelah kami desak, ternyata ini alasan paling pentingnya: ibu mengkhawatirkan anak-anak perempuannya, kami berdua. Bayangkanlah, ketika lakilaki yang bukan suamiku hendak menciumku, aku sudah mulai melihat kelebat bayang-bayang ibu membawa tali menuju tiang gantungan!