Baca juga: Balung Kere (Bagian 1) – Cerpen Beni Setia (Jawa Pos, 28 Oktober 2018)
“Apa yang menarik dari seorang ibu yang terlalu ketat dalam urusan asmara seperti itu?”
“Justru di situlah, menariknya! Itu nyata, tetapi sekaligus fiktif, di zaman ketika kebanyakan ibu akan dengan riang memotret anak dan calon menantunya berciuman di tempat umum, sekarang ini.”
Sesampai di rumah, sebelum memasak kusempatkan membukai halaman medsos-nya. Kubacai pernyataan-pernyataannya, penggalanpenggalan puisi, opini, dan cerpennya. Tentu, tak terlewatkan pula foto-fotonya, yang sendirian maupun berbarengan dengan orang-orang dekatnya. Halaman-halaman itu sudah sekian kali kutelusuri ulang, dan tak juga terasa tanda-tanda aku akan segera bosan! Mula-mula aku hanya ingin mengetahui bagaimana ia merangkai kata, menyusun kalimat. Tetapi, kemudian aku menemukan sebuah dunia yang unik. Ia terkesan dingin, tetapi sekaligus bersahabat. Ia hampir tidak pernah mengatakan sesuatu tentang dirinya sebagaimana dilakukan kebanyakan pemilik akun medsos. Tetapi, dengan begitu justru sangat terasa ia meneguhkan kehadirannya.
Baca juga: Bidadari yang Tersesat di Neraka (Bagian 2-Habis) – Cerpen S. Jai (Jawa Pos, 14 Oktober 2018)
Tiba-tiba aku mengangankan kedatangannya di Negeri Beton. Segera, sebelum tahun berganti. Apa pun alasannya, tugas mendadak dari perusahaan tempatnya bekerja, misalnya. Aku ingin mengajaknya jalan-jalan di Star Ferry, naik kereta ke The Peak, dan menyusuri kawasan wisata malam di Wan Chai sebelum menyaksikan pesta kembang api. Tetapi, yang paling penting adalah ini: membiarkan sebuah ciuman terjadi secara seksama persis pada menit-detik pergantian tahun. Jika ia tak berinsiatif, akulah yang hendak memulainya! Lalu, dengan berat hati akan kulepaskan ia kembali terbang ke tanah air dengan belasan cerita pendek dan berpuluh puisi di dalam kepalanya. Sepertinya hanya itu jalan terbaik bagiku untuk melahirkan sebuah cerita pendek mengenai ciuman. Dan aku tak ingin membayangkan ibu membawa talinya sendiri menuju tiang gantungan. (*)
3 Januari 2019
Bonari Nabonenar. Penulis cerita dan puisi dengan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Kini sedang mempersiapkan penerbitan buku puisinya dengan judul “Pelikipu”.