Dendeng Balado Amak

Malam Sabtu berikutnya dendeng balado kembali tersaji di meja makan. Aku membantu amak menyiapkan peralatan untuk makan malam. Ini akan kembali menjadi makan malam besar kami. Pukul tujuh, kami hanya tinggal menunggu apak pulang. Aku yakin apak akan senang melihat dendeng balado buatan amak setelah tujuh hari menantinya. Dan nanti aku akan bilang kalau aku sedikit membantu amak dalam membuatnya. Apak selalu berpesan agar aku belajar membuat dendeng balado, agar jika aku punya suami nanti aku bisa menyajikan dendeng balado seenak buatan amak.

Tak berapa lama apak pun muncul dari balik pintu. Wajahnya tampak sedikit lain. Penuh semringah. Mungkin karena sekarang malam Sabtu, mungkin juga bukan. Apak segera mengambil kursi, menjatuhkan pantatnya sedemikian lugas, tegas.

“Ada dua hal yang membuat malam ini terasa istimewa,” terang apak.

Aku dan amak hanya bergeming dan saling tatap.

“Pertama karena malam ini ada dendeng balado, dan kedua karena Apak punya pekerjaan baru!”

Kulihat amak tersenyum di seberang meja.

“Pekerjaan apa, Pak?” tanyaku.

“Apak diajak Uda Nila untuk bekerja di peruhasaannya. Ya, cuma jadi office boy, tapi lumayan gajinya. Kita bisa masak dendeng balado seminggu dua kali.”

“Oh, syukurlah,” ucap amak pelan disertai bibir yang mengembang.

***

Setidaknya sekarang apak tidak menjadi tukang angkek di pasar lagi. Pakaiannya juga jauh lebih bersih, rapi dan harum. Aku juga cukup percaya diri saat teman-teman di sekolah bertanya apa pekerjaan apak. Aku jawab saja jadi office boy, lalu mereka akan sedikit memuji karena memang rata-rata pekerjaan apak mereka hanya sebagai tukang angkek atau paling tinggi jadi mandornya. Tetapi, yang lebih menggembirakan dari pada itu adalah sekarang kami bisa menyantap dendeng balado dua kali dalam seminggu.

“Apa dua kali dalam seminggu tidak berlebihan? Harga dagingkan sudah naik,” kataku pelan saja saat apak sedang lahap-lahapnya memasukkan makanan ke mulut.

“O, tentu tidak, Piak. Ini makanan terlezat yang bisa kau nikmati selagi hidup.”

Oh, baiklah. Lagi pula siapa yang bisa menolak dendeng balado seenak buatan amak?

Arsip Cerpen di Indonesia