Besoknya, amak memintaku ke pasar untuk membeli daging serta bumbu untuk memasak dendeng. Beruntung jarak pasar dari rumah kami tidak terlalu jauh, aku bisa berjalan kaki untuk menempuhnya. Tetapi sepulang dari pasar aku melihat sesuatu yang cukup membuat dadaku terasa sesak. Aku melihat apak bergandengan dengan wanita lain. Tentu saja aku tidak mau berpikir buruk terlebih dahulu. Akhirnya aku mengikuti apak dan wanita itu menuju warung makan.
Melalui lubang jendela aku melihat apak dan wanita yang tidak kuketahui namanya itu memakan dendeng balado yang diantar oleh seorang pelayan setelahnya. Betapa perih hatiku melihat apak memakan dendeng balado selain buatan amak dan duduk bersama wanita lain. Dan, ya Tuhan, apalagi ini? Mengapa apak memberikan senyuman kepada wanita itu? Dadaku tersenak, kepalaku terasa pusing berputar-putar. Ingin rasanya aku menjerit, tapi aku tidak punya kuasa.
Apak masih duduk bersama wanita itu dan aku tidak mendengar apa pun yang mereka bicarakan. Tidak, lagi pula aku tidak ingin mendengarnya. Tubuhku sudah hampir limbung. Mataku terasa panas dan berair. Aku memutuskan untuk pergi saja dengan tubuh yang masih gemetar. Amak tidak boleh sampai tahu kalau apak sudah bermain api. Biar saja semua berjalan seperti hari-hari sebelumnya. Memang menyakitkan bagi amak, tapi selagi ia tidak tahu apa-apa semua akan baik-baik saja.
Sudah pukul sepuluh malam. Apak belum juga muncul dari balik pintu. Tidak biasanya apak pulang selarut ini. Padahal apak selalu tak sabar ingin memakan dendeng balado buatan amak. Wajah amak mulai terlihat cemas. Dari tadi ia mondar-mandir melirik ke luar rumah. Dan aku juga mulai merasa khawatir, apa jangan-jangan apak masih dengan wanita itu?
“Barangkali apak kerja lembur, Mak,” ucapku pelan, pelan sekali.
Amak berpaling dan tersenyum. Tetapi wajah penuh kecemasan itu tidak dapat disembunyikan. Sudah hampir jam sebelas malam, amak menyuruhku untuk segera makan. Aku bilang nanti saja menunggu apak pulang agar kita bisa makan bersama-sama. Tapi amak memaksaku untuk segera makan. Mungkin ia mendengar isi perutku yang keroncongan. Ya, sudah, aku makan malam seorang diri.
Entah pukul berapa, aku mendengar suara ribut-ribut di ruang tengah. Aku berjalan sempoyongan menuju pintu kamar lantas membukanya sedikit. Sepertinya apak baru saja pulang. Aku melihat amak menangis di lantai, padahal aku belum sekalipun melihat amak meneteskan air mata. Aku juga melihat apak sedemikian marah, padahal aku belum pernah melihat apak seperti itu. Lalu dengan secepat kilat tangan hitam apak melayang dan mendarat di pipi amak yang seketika meninggalkan tanda merah. Aku berlari ke luar kamar.