“Apa yang Apak lakukan, ni?” aku berusaha menghalangi tubuh amak yang ringkih.
“Tak usah ikut campur kau, Piak!”
“Apak keterlaluan!”
“Diam kau, Piak!”
Lalu tangan kasar apak pindah mendarat di pipi sebelah kiriku. Hening setelahnya.
***
Rupa-rupanya kabar perselingkuhan apak dengan wanita yang sampai sekarang belum kuketahui namanya itu bukan lagi sebuah rahasia yang hanya aku sendiri yang tahu. Kabar itu sudah menjalar sedemikian cepat seperti jerami tersambar api. Bahkan teman-temanku di sekolah sudah tahu kalau apakku adalah lelaki bejat. Mungkin amak juga sudah tahu, tapi mungkin juga belum. Amak tidak pernah bergaul dengan ibu-ibu sekitar rumah. Ia hanya keluar ketika menjemur pakaian atau menyapu halaman, selebihnya jarang. Aku harap amak benar-benar tidak tahu apa-apa.
Tadi pagi aku mendengar kabar bahwa seorang janda muda dari kampung seberang hilang tanpa jejak di pasar. Lantas yang membuatku panik adalah saat kutahu bahwa wanita itu selingkuhan apak. Dan, astaga, tadi pagi amaklah yang pergi berbelanja. Tapi… sepertinya amak tidak tahu apa-apa sebab ia pulang tanpa ada gelagat yang lain. Ya, semoga saja amak memang tidak tahu segalanya.
Dendeng balado kembali mengisi menu makan malam kami. Betapa riang hatiku melihat apak dan amak yang sudah kembali rukun. Aku mencium dendeng balado buatan amak lamat-lamat. Baunya jauh lebih mantap ketimbang sebelum-sebelumnya. Kulihat apak di seberang meja juga sangat bergairah memakannya. Sesekali ia mengacungkan jempol dan memuji dengan mulut yang benar-benar penuh.
“Ini dendeng balado terenak yang pernah kumakan, kau pakai resep baru, Supiak?” tanya apak setelah meneguk segelas air sebelumnya.
“Tidak. Masih resep yang sama pemberian mak gaek,” jawab amak sambil tersenyum.
“Lalu apa yang membuat dendeng balado ini terasa seribu kali lebih enak ketimbang sebelumnya, Supiak?”