Air Mata yang Pecah di Tanah Ini

“Kami mohon dengan sangat untuk sementara ini tidak melanjutkan penggusuran rumah di desa ini. Kasihan anak-anak sekolah masih sedang melaksanakan ujian. Dan beri kami waktu untuk bisa menenangkan hati dan mengusap air mata,” kata Ayah sambil memandang rumah tetangga yang roboh

“Baik, kami beri waktu, tapi ingat, kalian harus pergi dari sini.”

Bagai makan buah simalakama. Akan memilih untuk tetap tinggal di sini atau memilih untuk pindah demi meninggalkan kekejaman. Ayah telah berhasil meminta permohonan untuk membatalkan sementara. Ini hanya sementara, nantinya akan dilaksanakan lagi entah tanggal berapa atau memang hari ini dan esok adalah waktunya proyek berlibur. Ayah memang orang yang hebat. Aku tinggal menunggu rencana-rencana dan menyaksikan Ayah untuk melawan mereka. Sementara aku hanya menjadi saksi kehebatan Ayah. Tidak! Aku tidak boleh diam begitu saja. Diam akan tertindas. Aku harus membantu Ayah untuk memperjuangkan tanah kami. Ya, tanah kami.

Mega mendung menutupi langit juga mata. Pohon-pohon hanya meninggalkan batangnya, daun lebih suka menyatu dengan tanah. Ini musim gugur atau musim sepi? Ya, bahkan dua-duanya adalah musim di desa ini. Rupanya matahari telah terbenam dan semakin sepi saja desa ini tanpa cahaya. Yang lebih mengejutkan lagi, listrik rumah-rumah padam semua. Padahal kemarin baru saja Ayah membayar listrik di PLN.

Kegelapan bukan menjadi alasan untuk tidak menunaikan ibadah salat. Ayah mengajakku bertayammum sebab keran air sudah tidak bisa dihidupkan di rumah-rumah, memang ada sumur yang masih setia pada kedalamannya, namun tiada penerang sama sekali yang membuat kami tak sanggup mengambil air wudu. Gelap ini semakin membuat lebih khusyuk untuk salat. Dan memikirkan persoalan itu malah sepertinya lebih tenang. Ibuku, Aini—orang-orang biasanya memanggil Bu Eni—juga sangat khusyuk berdoa. Begitu juga dengan Ayah yang memimpin bacaan zikir. Lalu Ibu memelukku sambil menangis disusul Ayah mengusap air mata Ibu dan memeluk semuanya.

“Sudah jangan menangis lagi, Bu.”

***

Beberapa hari, tak lama menghirup udara di sini, betapa pagi bukan hanya matahari yang terbit, namun suara ambruk tembok dan kayu juga turut menyertai. Orang-orang hanya dapat mengemasi barang-barang sambil merapikan air matanya yang telah mendidih di dada. Namun juga tetap ada yang tidak ingin meninggalkan lahan ini karena menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian dan ada berbagai alasan lainnya. Aku dan Ayah bersama di depan rumah, sementara Ibuku menyungkum tanah di depan ekskavator yang akan merejang rumah, namun para aparat keamanan menyeret Ibuku agar tidak ada yang mengganggu proyek ini.

Arsip Cerpen di Indonesia