“Tidak, aku tidak mau meninggalkan rumah ini,” kata Ibu sambil menjerit dengan keras dan menangis sekencang-kencangnya.
“Hey, berhenti. Jangan sembarangan menyeret istriku,” kata Ayah dengan nada melawan.
“Oh, ini istrimu toh, ini bawa pergi saja istrimu yang tak tau apa-apa,” kata salah satu petugas keamanan yang semakin membakar emosi.
“”Eh hati-hati loh mengatakan kami begini,” kata Ayah di depan muka petugas itu. “Kalau kamu mengatakan seperti ini lagi, saya tak segan untuk memukulmu.”
“Pukul saja, hahaha.”
“Sudah-sudah, Yah, jangan berkelahi di sini.” Ibu pun berusaha melerai.
***
Seketika kami pergi meninggalkan rumah ini dengan membawa barang-barang. Ayahku bukan takut dengan mereka, hanya saja Ayah menghormati peraturan yang ada. Apalagi petugas negara sudah menetapkan peraturan tentang percepatan pembangunan dan pengoperasian bandara. Dan masih ada orang yang tidak mau mengalah (mempelajari, mengkritisi, dan melawan), memanggil rakyat untuk memperjuangkan tanah ini, bahkan ada juga yang ingin mengubur di dadanya sendiri.
Mungkin nanti setelah proyek pembangunan ini selesai, bukan hanya burung-burung beterbangan yang menjadi simbol cita-cita dan harapan. Namun nanti, akan diganti pesawat yang menjadi harapan-harapan di masa depan. Atau bagi kami, yang beterbangan adalah air mata yang melumuri luka menganga. Namun, kami sekeluarga menyadari dan menghormati peraturan yang ada meski berat untuk menerimanya, meski air mata mendidih di dada, meski air mata yang akan menjadi saksi sejarah. Sejarah yang nantinya menjadi bacaan untuk mengulang luka yang sama. Sekarang kita hanya menghargai orang-orang yang akan berwisata, berindustri, dan mempercepat perekonomian di negara. Menghargai bahwa kita masih menghirup udara dan meminum air yang sama di negara ini. Menghargai sebagai manusia.
“Dan berharap semoga mereka juga menghargai kita,” kata Ayah sambil menanam harapan di dadanya.
Syah Rifqi, nama pena dari Muhammad RifqiNurd iansyah. Mahasiswa Ilmu Komunikasi, UMM, yang berasal dari Kota Bumi Sholawat Nariyah (Situbondo). Santri alumnus PP Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Pegiat Komunitas Sastra Titik Koma Cabang Malang. Sekarang sedang menyelesaikan sebuah buku.