Apakah Kau Tahu, Bagaimana Rasanya Punya Ibu Baru?

Tapi pamanku, Juki namanya, yang merupakan seorang tentara tidak suka pada kisah cinta ayah.Paman Juki  pernah menasihati ayah untuk tidak menikahi perempuan itu.

“Kau gila, menyukai janda komunis. Tak usah kau kawin dengannya,” kata Paman Juki suatu hari di rumah kami.

“Apa salahnya? Yang komuniskan suaminya. Diakan tidak,” jawab ayah pula.

“Sama saja. Jika suaminya komunis, istri dan anaknya juga komunis,” balas Paman Jukilagi.

Ayah tidak pernah peduli pada nasihat Paman Juki. Paman Juki benar-benar tidak suka pada ibunya Mala. Pada acara ijab kabul pernikahan ayah pun, paman Juki tidak puladatang berkunjung.

***

Selama  dua hari berada di rumah kami, ibunya Malalebih sering diam dan tak banyak bicara. Raut wajahnya seperti ditutupi aroma duka. Ia melakukan kegiatan sehari-hari dengan mulut membisu. Jika tidak diajak bicara dia akan diam saja.

Aku tidak mengerti, mengapa ayah bisa hidup dengan ibunya Mala. Sebab dengan ayah, ibunya Mala pun tidak banyak bercakap. Aku mengibaratkan ibunya Mala seperti pembantu ayah. Wajahnya selalu gugup bila bersama ayah.

Satu bulan setelah ayah menikahi ibunya Mala, pemerintah memberhentikan ayah menjadi guru di sekolah rendah. Tepat kata ayah dipecat. Ayah dipecat karenaterindikasi komunis karena menikahi janda yang suaminya komunis.Tapi ayah tidak di penjara. Ayah hanya diinterogasi oleh beberapa polisi yang datang ke rumah. Dan ayah seperti terpukul hatinya menerima pemecatan itu. Aku pernah melihat ayah pada suatu malam duduk melamun seorang diri. Aku juga pernah melihat ayah meneteskan airmatanya pada suatu siang di belakangg rumah.

Setelah tidak lagi menjadi guru, ayah menjadi pemahat batu. Di sungai yang letaknya  sekitar lima ratus meter di belakang rumah, ayah menghabiskan hari di sana memahat batu. Ayah memahat batu yang bulat menjadi batu berbentuk pipih. Batu pipih itu untuk menggiling bumbu dapur. Sekali seminggu ayah membawa hasil pahatannya ke kota untuk dijual.

Beberapa kali aku pernah menemani ayah memahat batu di sungai. Dalam pergaulan antara aku dan ayah di sungai, ayah sempat mencurahkan isi hatinya.

“Mungkin terkadang kau berpikir apa yang ada dalam pikiranku ini sebenarnya. Apakah aku seorang komunis atau tidak. Tapi perlu kau ketahui Nak, aku bukanlah seorang komunis.”

Arsip Cerpen di Indonesia