Apakah Kau Tahu, Bagaimana Rasanya Punya Ibu Baru?

“Aku mengantarkan makanan dari ibunya.”

“Asam pedas?”

“Ya,” jawabku.

Perawat itu tersenyum.

“Mala pasti senang. Asam pedas buatan ibunya adalah makanan kesukaanya. Kamu anak tirinya?

Aku mengangguk.

“Ibunya memang pernah mengatakan padaku bahwa ia akan menikah lagi.”

Aku hanya tersenyum.

“Mari ikut aku,” sambungnya. “ Sudah lima belas tahun Mala tinggal di sini. Kamu adalah orang pertama selain ibunya yang datang menjenguk.”

Aku tidak menyahut kata-kata perawat itu. Aku hanya mengikuti langkahnya. Dan tidak lama kemudian langkahnya berhenti pada sebuah ruangan. Bukan pada sebuah ruangan, tapi seperti pada sebuah sel penjara.

“Mala, ada tamu yang datang membawakan sambal asam pedas kesukaanmu,” seru perawat itu pada sekumpulan perempuan di sudut dinding.

Aku melihat seorang  perempuan seperti berloncat keluar dari kerumuman perempuan itu. Wajahnya sangat bahagia. Ia tersenyum dan  mendekati perawat tua itu.

“Mana ibuku?” Tanyanya dengan tersenyum.

Perawat itu memalingkan wajah padaku. Dan perempuna itu, yang wajahnya aku kenal betul meski sudah  lama tidak berjumpa, juga mengarahkan pandangannya padaku.

“Mala,” batinku.

Perempuan itu, yang kuyakin adalah Mala, lalu mengerutkan keningnya melihatku.

“Paman Juki?” Katanya dengan suara agak keras. Tiba-tiba wajahnya pucat.

“Bukan, aku  Sahir. Apa kamu lupa Mala?” Kataku sambil mendekati jeruji besi ruangan itu.

“Bukan!Kamu Paman Juki. Kamu jahat. Kamu perkosa ibuku dan bunuh ayah,” kata Mala sambil memukul-mukul  tanganku. Lalu ia berlari  meninggalkanku dan memangis.

Arsip Cerpen di Indonesia