Apakah Kau Tahu, Bagaimana Rasanya Punya Ibu Baru?

“Tapi orang kampung menganggap ayah komunis karena mengawini janda komunis.”

“Tidak Nak. Ayah bukan komunis.”

“Tapi ayah, mereka menuduh ayah begitu.”.

“Percayalah, ayah bukan komunis, sama juga seperti ibunya Mala. Dia  bukan komunis. Ayah juga anti komunis. Karena ayah tahu ibumu bukan komunis maka ayah mau kawin dengannya. Ayah mengawini ibumu itu bukan hanya karena kecantikannya. Ayah tahu siapa dia. Dia teman ayah sepengajian sewaktu remaja. Orangnya baik. Cuma agak polos.”

“Ayah juga tidak percaya jika suaminya itu dulu seorang komunis. Ayah tahu suaminya. Karena suaminya itu juga teman ayah. Satu minggu sebelum suaminya ditemukan jadi mayat di sawah, suaminya itu pernah mendatangi ayah. Suaminya  mengadu pada ayah ketika ia dituduh terlibat komunis. Suaminya itu  mengaku pada ayah bahwa ia bukan komunis. Ia mengaku dijebak oleh Sahyudin. Sahyudin itu, kau tahu, dulunya menyukai ibunya Mala. Mungkin ia menaruh dendam karena tidak bisa merebut hati ibunya Mala.”

“Kau tahu? Waktu itu adalah tahun yang sangat sulit untuk hidup. Kau saat itu masih sembilan tahun. Mungkin belum tahu apa-apa.”

Aku hanya mengangguk-angguk mendengar tuturan ayah.

***

Satu hari setelah ayah menjelaskan tentang ibunya Mala, aku mulai berusaha untuk menerima kehadirannya di rumah. Aku percaya pada ayah, bahwa ibunya Mala bukanlah seorang komunis. Sejak itu aku pun berusaha untuk menganggapnya sebagai ibuku sendiri.Namun, ada satu hal yang membuatku selalu terbebani setiap melihat ibu tiriku itu, dan ayah tidak tahu, yakni, aku selalu teringat pada Mala. Wajah ibu tiriku sangat mirip Mala, temanku sewaktu kecil. Aku kehilangan Mala ketika menginjak kelas dua SD.

Setelah aku menginjak bangku SMP, aku baru dapat kabar dari orang-orang dewasa di kampungku, bahwa Mala telah ditinggal di rumah sakit jiwa. Kata mereka, Mala telah gila.

Sekarang, aku ingin sekali menanyakan perihal Mala pada ibuku itu. Menanyakan padanya, apakah Mala baik-baik saja? Tapi sampai beberapa hari kemudian aku belum juga bertanya tentang Mala.

Arsip Cerpen di Indonesia