Mala orangnya baik. Periang dan pintar. Dia suka bercanda denganku. Suka meminjam pensilku, dan ia suka sekali menuggu kehadiranku di sekolah. Sejak aku kehilangan Mala, aku selalu memikirkannya.
***
Tepat setelah satu bulan ibunya Mala berada di rumah kami, yakni awal-awal memasuki bulan baru, dia mulai akrab denganku. Ia mau berbicara meski hanya sekadar menyuruhku menimba air di sumur, membeli cabaiatau membeli sayurke pasar.
Suatu hari ibunya Mala memanggilku, aku ingat sore itu hujan turun lebat. Ia menyuruhku duduk di depannya. Aku menafsirkan pasti ada sesuatu hal penting yang ingin disampaikannya. Setelah aku duduk di depannya, ia tidak langsung berbicara kecuali menatapku beberapa lama. Setelah ia membuang sebuah puntung rokok yang tergeletak di atas meja, dia berkata.“Kau ingat dengan Mala?” pertanyaan itu mengejutkanku.
Tentu aku tidak dapat menjawab langsung pertanyaannya. Terkejut membuatku kehilangan kata-kata dan aku terlihat begitu bodoh.
“Kenapa, Bu?” tanyaku pelan.
“Ibu tidak bisa menjenguknya bulan ini. Beberapa hari ini perut ibu sering kesakitan. Untuk itu, kamu jenguklah dia. Ibu akan memasak sambal asam pedas kesukaanya. Mala selalu meminta sambal asam pedas setiap dijenguk. Besok kamu bisakan, antar masakan ibu buat Mala?”
Aku menganggukan kepala dengan pelan.
“Kau tahu? Mala tidaklah gila, ia hanya ingin sendiri saja. Kau tak usah takut padanya, ya,” katanya lagi.
“Ibu tahu, selama ini mungkin kamu pernah mendengar tentang Mala. Ia memang berada di rumah sakit jiwa. Tapi sekali lagi ibu katakan, bahwa Mala tidaklah gila. Ia hanya ingin sendiri,” ujarnya lagi.
***
Seperti anjuran ibunya Mala, pagi keesokan harinyaaku mendatangi sebuah rumah sakit jiwa di kotaku. Dan tentu tidak lupa membawa masakan asam pedas buatannya.
Seorang perawat yang agak tua mendatangiku ketika telah berada di halaman isolasi pasien gangguan jiwa. Ada ruangan-ruangan yang berjeruji besi sebagai pembatas dengan ruangan yang lainnya. Ruangan-ruangan itu bagiku tak ubahnya seperti sel-sel penjara tindak kejahatan yang menakutkan.
“Katanya, kamu ingin menjenguk Mala ya,” kata perawat itu.
“Ya,” jawabku.