Mamaknya mengabarkan, bahwa bapak tak lagi tinggal serumah. Alasannya membikin perih hatinya. Namun dia tahu tabiat bapak sejak dulu. Bencinya telah menebal. Kali ini dia membiarkan. Mungkin sudah suratan takdir. Mempertahankan rasanya lebih membuat Mamak makan hati.
Tak hendak pula dia ingin pulang barang sehari dua hari. Mungkin itu yang terbaik untuk keluarganya.
“Baik-baik di sana. Jaga kesehatan.”
“Iya, Mak”
“Jika ada libur, pulanglah. Sekali-kali kita ngumpul”
Ada nada bergetar pada kalimat terakhir Mamak. Rasa rindu ingin bertemu. Tapi Karmin takut. Takut pulang. Mungkin lebih tepatnya malu.
“Kau malu kenapa?” Tanya pak Burhan suatu waktu di tahun keempat dia tak pulang.
“Malu ditanya kerja apa sama orang kampung? Kau kan selalu sudah punya kerja.” Pak Burhan mengejar. “Atau malu belum nikah? Maka cepatlah kau menikah”
Ah, pak Burhan tak tahu. Dan jangan pernah tahu. Apa yang membuatnya malu untuk pulang. Dia tidak akan menceritakannya. Meskipun pada orang yang sudah menganggapnya keluarga sendiri.
“Kau harus memaksakan diri untuk pulang. Nunggu apa? Ongkos kau punya. Pabrik pun ngasih libur. Kau pun tidak ke mana-mana liburan di sini.”
Ada benarnya. Dua pekan libur dia tidak ke mana-mana. Meski tak mudik, dia pun tak selera ke tempat wisata atau jalan-jalan ke mana pun.
Seharian di asrama. Bersih-bersih di dalam rumah, merapikan file pekerjaan, atau mencabuti rumput di halaman. Dalam pada itu, waktu berjalan lambat. Biasanya asrama ramai, sekarang sepi. Tidak ada teman mengobrol, semakin sunyi.
Lalu suatu waktu di akhir pekan, pernah dia menyempatkan diri untuk ikut family gathering karyawan pabrik. Di situlah bermula alasan dia harus pulang. Di stasiun, tak sengaja dia bertemu dengan Iwan, orang sekampungnya. Saat itu Iwan pula yang duluan menyapa. Karmin biasanya tidak fokus di keramaian. Pikirannya mengembara kemana-mana.