Menebus Rindu

Saat semakin mendekat dengan rumahnya Kasmin mempercepat langkahnya, menata hatinya, dan meminta agar mendung di matanya tak berubah menjadi gerimis. Di pelataran rumah, terlihat Mamak sedang menajamkan cangkul kecil. Cangkul yang biasanya untuk menyiangi pokok tanaman atau sayuran. Diasah setelah berkali-kali dipakai agar tajam lagi. Sedang fokus, Mamak tak melihat kedatangan Kasmin yang masih mematung. Bermenit-menit berlalu, Kasmin masih menjadi patung yang membatu namun bisa bernapas dan berhati. Dan hari itu, hatinya berbisik,

“Mak, aku pulang…” (*)

Arsip Cerpen di Indonesia