Iwan bilang dia kerja di pabrik sepatu di kota industri itu. Belum lama. Belum genap satu bulan. Di kampung dulu, Iwan kerja serabutan, kadang tulang bangunan, kadang bertani, mengurus sawah orang. Iwan adalah teman semasa kecilnya. Rumah mereka pun berdekatan. Sudah seperti saudara sendiri.
“Kau sudah lama tak pulang. Kapan kau pulang?”
Jika selama ini ditanya pak Burhan, dia enggan menjawabnya. Tapi jika Iwan bertanya, dia tahu Iwan sudah tahu jawabannya. “Mamakmu selalu cerita ke mana-mana. Ke semua tetangga dia membanggakanmu. Malah, maaf, dia seperti kehilangan kesadaran dan akal sehatnya jika sudah cerita.”
Iwan lengkap dan detail menceritakan. Hingga sedih dan pilu hati Karmin mendengarnya. Tak tahan mendengar cerita itu, Kasmin meminta Iwan berhenti bercerita. Tak tahan ia terus mendengarkan.
Dua jam lebih keduanya bercerita. Pada akhirnya, Iwan memaksanya untuk pulang. Kali ini, tanpa dipaksa, Kasmin bulat untuk pulang.
***
Hanya Mamaknya kini yang dia punya. Tak ingin dia mengabaikan satu-satunya yang dia punya. Mes kipun, ada Mbaknya, tapi sudah berkeluarga, dan berumah jauh dari Mamak. Tak bisa berharap banyak.
Selain itu, sudah waktunya pula dia berbakti pada Mamak. Dari cerita Iwan dia tahu Mamak begitu merindukannya. Berharap anak laki-lakinya kembali ke rumah setelah sekian lama merantau.
Dari Iwan pula, tak banyak yang Mamak inginkan. Tak gaji atau pun oleh-oleh. Juga pangkat atau kekayaan. Kedatangan. Yah, kedatangannya itulah yang sangat Mamak harapkan.
Tapi yang terpenting juga, kepulangannya adalah untuk menebus rindunya. Tak kepalang rindunya pada Mamak. Jangan sangka tak pulang itu tak rindu. Justru semakin jauh merantau semakin kuat pula rindu itu mendera. Itu mengapa orang merantau pada tempat-tempat dekat akan sering pulang karena tak terhalang rindu. Sepandai-pandainya bangau terbang tinggi, kembali juga ke sarangnya. Dan saat ini, Kasmin menjadi bangau itu.
Ada satu hal yang membuat Kasmin tak pulang setiap tahun. Rindu. Tak tahan terbayang wajah tua Mamak. Wajah tua dengan segenap kesedihan yang sering menderanya jika terus berada di kampung yang pasti penuh kenangan masa hidup.