Dia ingin pula membawa Mamak untuk tinggal bersamanya. Tapi belum mungkin. Dan tidak mungkin. Kampung itu terlalu banyak membuat dan menyimpan kenangan. Jika Kasmin ingin menghapus dan melupakan kenangan itu, Mamak lebih memilih merawat kenangan itu.
***
Itulah kekuatan rindu. Yang mengherankan dan menggerakkan. Pak Burhan tersenyum lebar dan tergopoh-gopoh menyiapkan amplop. Menambahi sangu di perjalanan.
“Sampaikan salamku pada keluargamu di sana. Mudah-mudahan semua sehat.”
Malahan Pak Burhan menambahi pesan aneh, “Tak perlu cepat kembali ke sini. Puaskan berbakti pada orang tuamu. Pekerjaan gampang dicari. Di sana pun pasti banyak pekerjaan. Di mana pun pasti ada rezekinya.”
Kekuatan rindu itu pula yang membuatnya mengajukan pengunduran diri ke perusahaan. Mendadak. Pimpinannya pun kaget. Tapi menerima surat pengunduran itu. Berjanji akan mengurus pesangon. Diusahakan bisa. Pimpinannya merasa berhutang Budi karena kinerja Kasmin yang selalu membaik tiap mendapat tugas.
Pak Burhan pun tak diberitahu. Dia akan mengabari jika sudah di kampung kelak. Hanya satu yang dikhawatirkan, pak Burhan akan memberikan semakin sangu. Itu yang tak diinginkannya.
Sewa kapal yang lebih mahal dari biasanya tak menjadi soal. Asal segera menyeberang. Segera menginjak tanah Andalas. Kasmin yakin setelah berada di pelabuhan Bakauheni, perjalanan semakin mudah dengan berbagai alternatif kendaraan.
Perjalanan sekitar setengah jam. Kapal kemudian merapat di pelabuhan Bakauheni. Sesampainya di sana tak sulit mencari mobil sewaan. Bawaannya hanya satu tas saja mempermudah berjalannya. Semesta seperti sedang mendukungnya. Dia menemukan mobil yang hampir penuh. Tak menunggu lama, mobil bergerak membelah tol Lampung-Pekan Baru. Beberapa jam lamanya perjalanan itu. Semakin dekat dengan kampungnya, semakin Kasmin menguatkan diri. Menebak-nebak apa yang hendak ditemui di rumahnya. Sedang apa Mamaknya. Adakah di rumah? Atau sedang ke rumah tetangga? Atau, ke ladang? Kasmin ingat benar dulu Mamak suka sekali ke ladang. Tapi entah sekarang. Dengan tenaga yang tak lagi kuat dan tubuh yang semakin merapuh dimakan usia tentunya jangan banyak lagi kerja-kerja berat yang dilakukan. Kotanya tak banyak berubah. Justru kampungnya yang banyak berubah. Penampilan muda-mudi di sepanjang jalan mengatakan banyak televisi membawa pengaruh. Para pemudanya berambut warnawarni meski wajah pribumi tak bisa disembunyikan. Pemuda pemudi hingga anak-anak menenteng hp dalam kerumunan. Satu dua orang menyapanya di jalan. Beberapa menatapnya dengan antusias. Pikir mereka, si anak hilang telah kembali.