Di sela diamku, Jib Najib melanjutkan lagi, “Kejadian itu diketahui sore hari, saat sebuah keluarga hendak mengubur mayit lelaki sepuhnya di sana.” Ketahuilah, di kampung, tak ada tukang gali kubur khusus. Siapa pun bisa dan boleh-boleh saja. “Delapan orang pergi ke sana. Empat orang bertugas menggali liang baru. Empatnya lagi mengambil keranda. Saat itulah mereka semua ternganga, dikejutkan keranda baru yang sama sekali belum pernah dipakai, jejer dengan keranda lama.”
Namun, karena segala keperluan orang meninggal harus diurus, setelah percakapan, tidak lebih getir ketakutan. Masih dengan tubuh gemetar, mereka mengangkat keranda lama pelan-pelan. Sementara penggali liang, dengan mata awas penuh waswas, terus menggali tanah dengan perasaan kesusu cepat selesai. Lepas itu, percakapan berembus cepat hingga ke seluruh kampung perihal keranda misterius itu. Dan selanjutnya bagai teror. Ya, keranda itu teror bagi ketentraman jiwa.
Betapa orang-orang di kampung menjadi gentar, kerap menanyakan kesanggupan dan kesiapan diri dijemput kematian. Kematian yang lebih kejam dari apa pun itu, senantiasa terus mengintai dan tengah bersiap menusukkan kuku-kukunya. Orang-orang memandang ke luar jendela, atau dari muka pintu mendongak ke langit, memeriksa di sela manakah maut berada. Sebab, ketika terdengar keranda itu berbunyi, sudah dapat dipastikan keesokan harinya liang baru menganga untuk penghuni kubur baru.
Aroma kematian benar-benar menyelubunyi segenap kampung!
“Tentu bagi mereka yang rumahnya cukup dekat dengan lokasi pemakaman, bukan lagi kepalang kengerian itu terasa. Sungguh beruntung tidak mati mendadak,” cetusku, menanggapi. Jib Najib mengangguk-angguk.
Mungkin kesannya biasa-biasa saja bila di sisi lain kehidupan di kampung mendadak berubah. Sisi lain itu, orang-orang seperti baru dilahirkan kembali. Mereka tidak berani bermusuhan, menebar kerusuhan, mencuri, hingga tak segan saling membunuh—baik karena masalah harga diri, keyakinan, kecemburuan kelas sosial, maupun kedengkkian yang bersarang di dalam dada. Mereka lebih ngeri memikirkan kematian itu sendiri. Sampai suatu masa, di mana masa itu berbeda sama sekali. Keranda itu tidak berderak-derak seperti biasa. Bahkan lenyap kendati tidak diketahui kapan persisnya. Begitulah, dan kawanku belum melanjutkan ceritanya. Dia beralih sebentar pada tiga buku kumpulan cerita yang kutulis dalam rentang waktu cukup lama. Salah satunya kububuhi judul Orang-Orang Kampung karena terkesan judul tulisan maestro dalam negeri, Orang-Orang Bloomington.