Keranda

Namun, begitulah, kau boleh percaya atau tidak. Orang-orang di kampungku sekarang tidak jauh berbeda dengan mereka yang sempat semasa dengan kejadian muskil itu. Ketakutan yang mereka rasakan saat melihat atau mendengar pitutur orang-orang yang melihat langsung keranda terbang itu tidak sampai membuat pikiran dan hati mereka tergugah. Kendati hanya merenung, apalah artinya keranda terbang di malam cerah begitu?

“Sekarang kampungku… ah, sudahlah, lanjut saja kau baca tulisanku itu. Dan temukan sendiri jawabannya.”

“Mana bisa begitu? Ayolah, aku sibuk. Sebagai calon anggota legislatif, banyak hal menuntutku segera diselesaikan. Nanti sore saja aku harus ke kantor, ngurus ini dan itu.”

“Oh, aku lupa, tidak semestinya kukisahkah padamu. Apa pula hanya keranda.” Aku bergumam sendiri setelah cepat-cepat kututup telepon dan tidak mengaktifkannya lagi.

Aku memandang ke luar jendela, mudah-mudahan, tetap saja kudoakan kebaikan untukmu, jalanmu tidak menemukan aral melintang. Nanti jadilah perempuan yang benar-benar jujur dan amanah.

Dan selanjutnya adalah upaya tersenyum di sela bulu mataku mengerjap-ngerjap. Aku melihat keranda berbeda, cinta kami terbujur di dalamnya.

 

Giliraja-Karangcempaka-Sumenep, 2019

D. Inu Rahman Abadi. Penulis adalah mahasiswa STIQNIS Karangcempaka kelahiran Sumenep. Selain menulis, menggemari kopi, senja, dan sastra.

Arsip Cerpen di Indonesia