“Mestinya kau berpikir lebih dulu. Bukannya seluruh kampung sudah umum dengan keranda keberuntungan itu?” Lelaki itu hanya diam. “Sungguh disayangkan, keberuntunganmu itu lenyap begitu saja karena rasa takutmu. Pengecut sekali jadi lelaki.”
Sementara itu, seseorang yang dianggap beruntung itu telah menepati ucapannya. Dia bikin acara besar di lapangan kampung. Mulai mengundang kiai untuk ceramah, menyiapkan biduan, hingga menggelar pementasan wayang. Puncaknya, orang-orang kampung kerap berkhayal. Lagu-lagu khayalan menguasai benak mereka. Mereka benar-benar terperangkap dalam dunia khayalan.
Sepertinya, di sinilah letak kesalahan itu. Orang-orang menjadi dirinya masing-masing. Dunia baru yang mengusai mereka, benar-benar candu paling ganas. Tidak genap setahun, orang yang pernah beruntung dan diidam-idamkan yang lain seperti dirinya mati mengenaskan di rumah besar berhalaman luas yang pembangunannya baru saja selesai. Kepalanya hampir lepas dari tubuh. Barang-barang berharga di rumah itu raib dan hanya sedikit tersisa. Di sisi lain, terasa kampung berubah, lebih semarak dengan pembangunan di mana-mana. Entah, beragam cara ditempuh untuk itu. Dan semua bermula, tentu saja, dari lamunan-lamunan panjang mereka.
“Kampung menjadi tidak aman lagi. Teror di mana-mana. Begitulah kalau orang-orang sudah melupakan dari mana asalnya.” Kawanku Jib Najib menyesap rokok lagi. “Begitulah! Tempat hiburan bagai kecambah. Dan kesunyian terasa sekali di tempat-tempat ibadah.” Aku lantas bermenung. Seperti itukah kampungku dulu? Sungguh tak habis dipikir.
“Lalu? Sekarang?” Tepat dugaanku, kau mulai bertanya perihal keadaan kampungku. Tapi, pertanyaan itu selang sebulan dari rentang waktu kukirim tulisanku ke e-mailmu. “Bagaimana sekarang?” Pada wajahmu aku membayangkan ketidaksabaran itu. Tapi sungguh kusayangkan, kau belum membaca tulisan selanjutnya. Di mana kukisahkah pula mengenai keranda berbeda yang muncul untuk kali ketiga setelah kurun waktu cukup panjang.
Aku telah mengisahkan cukup panjang, tapi sederhananya begini: Lihatlah jauh ke angkasa. Biarkan matamu tetap terbuka untuk beberapa saat lamanya. Pelan-pelan kau menyaksikan pemandangan mengerikan yang membuat dadamu berdebar dan lututmu gemetar. Seperti yang dirasakan orang-orang di kampungku. Mendadak ratusan pasang mata terpaku begitu saja. Mereka menyangka bintang jatuh, yang semakin dekat makin terang bentuknya bukan bintang. Melainkan, sebuah keranda terbang dengan alur cahaya sehingga begitu jelas berjalan di udara. Tentu yang menambah kengerian itu adalah para pengusung keranda. Bagai dibalut jubah putih seputih kafan.