Keranda

Setelah menyeduh kopi dan menyulut rokok, dia menegaskan, “Memang, sepertinya orang-orang kampung butuh hiburan, suasana baru yang lebih segar. Kendati sudah lenyap ketakutan itu, hidup terasa normal kembali, lebih tertata dan berwarna, terlarang semua yang memicu kerusuhan atas nama apa pun, pertumpahan darah sesama orang kampung, dan sungguh menjunjung tinggi perdamaian.”

Berpuluh tahun kemudian, suatu malam di tahun 2000, kampung kembali gempar. Pasalnya, seorang pengendara telah menabrak sesuatu di depannya.

“Sungguh aneh, mana ada keranda di jalan kampung?”

“Itu betul. Tapi, aku benar-benar menabraknya.”

“Terus, setelah itu?”

“Aku lari membawa motorku. Tak hirau lagi pada luka di lutut kiri.”

“Keranda itu?”

“Tiba di rumah lebih dulu. Tutup atas keranda terbuka begitu saja seolah sengaja memperlihatkan isinya. Aku terkejut. Istri dan anakku pun terkejut menyaksikan semuanya.”

“Apa yang kau saksikan?”

“Batangan-batangan emas dan tumpukan uang.”

“Ah, kau suka ngarang. Dan ini terlalu berlebihan. Aku tidak percaya padamu.”

“Nanti kau akan percaya. Ha ha…

Berbeda dengan lorong yang dilalui orang itu, tidak berselang lama setelahnya terjadi hal serupa. Seorang pejalan kaki yang rasanya seolah tersandung sebuah benda. Setelah berhenti, lamat, mewujudlah di bawahnya sebujur keranda. Tentu saja orang itu ketakutan, kendati keranda itu bagai diriapi cahaya kunang-kunang. “Ya, mengenai salah seorang ini, dia juga bercerita kepada kakekku, Jib Najib,” kata temanku, serius. Aku terus mendengarkan dengan dahi mengerut dan dada kemeriut. “Orang itu lari ketakutan. Terjatuh dan bangun kembali. Sampai di rumah ditemui istrinya yang kebingungan dan bertanya-tanya ada apa?”

“Ada keranda di seberang sana,” jawab lelaki itu kepada istrinya.

“Kenapa kau lari?”

“Aku benar-benar takut.”

“Itu keranda keberuntungan. Mestinya kau tengok dulu isinya. Ayo kita ke sana.”

“Aku takut.”

“Sudah, ayo.” Dan di jalan itu sudah tidak ada apa-apa lagi. Hanya gulita. Lalu, mereka pulang tidak membawa apa-apa, kecuali sesal istrinya sepanjang jalan.

Arsip Cerpen di Indonesia