“Sehari-hari Syamaun bekerja sebagai penyelam kejing di sungai Peureulak. Kamu tahu, Nyak? Kejing hanya hidup di dasar sungai? Semakin lama kamu mampu menyelam, semakin banyak mendapatkan kerang itu.” Perempuan tua itu berhenti sejenak untuk mengambil napas. Matanya mulai berkaca-kaca mengenang sang anak yang telah mati.
“Kamu suka makan kejing, Nyak?” Lantana terkejut mendapat pertanyaan seperti itu.
“Iya, Nek Nu. Kadang ibu saya membelinya di pasar kemudian memasak kari. Sungguh lezat disantap bersama nasi.”
“Hari itu sungguh naas untuk anak saya. Dia ke sungai bukan untuk menyelam kejing. Dia hanya ingin memancing di rheuleung sungai. Mungkin Syamaun lupa kalau buaya yang sedang mengerami telur senang berada di tempat itu. Seekor buaya muncul dan menerkam kakinya.” Mata Nek Nu kembali menembusi tembok di seberang ruangan.
Saat itu perut Lantana berbunyi, mengharapkan segenggam nasi. Ia belum sempat makan, mendapat jadwal piket saat orang-orang pulang ke rumah untuk istirahat. “Terus, Nek?” Lantana ingat ketika seorang lelaki penuh luka dibawa ke Puskesmas tahun lalu. Mereka segera merujuknya ke rumah sakit kabupaten.
“Syamaun mencoba melawan, dan berhasil melarikan diri dengan luka sayat di kaki. Buaya itu telah mengoyak kaki anak saya. Tetangga yang hendak buang air di sungai menemukannya tergeletak hampir pingsan. Malangnya nasib anak saya.” Air bening mulai mengalir dari sudut mata perempuan tua itu. “Padahal beberapa tahun sebelumnya, Syamaun dan beberapa orang desa pernah membunuh seekor buaya. Mereka menjual kulit makhluk itu ke kabupaten. Itu sudah lama …, lama sekali.” Perempuan tua itu menghapus air matanya dengan tangan yang keriput nan gemetar.
“Kamu tahu rheuleung sungai, Nyak?”
Kali ini Lantana menggeleng.
“Tepi sungai yang tinggi dan terjal. Biasanya di bawah sana ada lubang yang terkikis air dan sedikit menjorok ke darat. Buaya-buaya senang meletakkan telurnya di tempat seperti itu.” Nek Nu kembali menelan ludahnya sendiri.
“Ne Nu, mau minum? Sebentar.” Lantana bangkit meninggalkan perempuan renta itu, masuk ke dalam dinding putih yang beku. Kemudian ia muncul dengan segelas air di tangan yang ia berikan pada perempuan tua di depannya.
Perempuan renta itu meminumnya sedikit dengan bibir bergetar. Lalu ia letakkan gelas itu di sisi tempat duduknya. “Rumah sakit ini tak sanggup menanggulangi luka Syamaun yang terus mengeluarkan darah. Mereka mengirimnya ke rumah sakit kabupaten.”
“Terus …?”