Lantana menceritakan kisah hidup Nek Nu pada Bu Asiah, Mirah dan petugas puskesmas lainnya. Mereka menjadi sangat simpati, mengumpulkan sedikit uang untuk membantu meringankan beban nenek tua itu.
Hari itu Bapak Kepala datang ke Puskesmas. Ia telah kembali dari tugas luar kota. Lantana memegang selembar surat yang sudah ditandatangani Bapak Kepala. Ia menunggu nenek tua itu datang ke Puskesmas. Hari sudah beranjak siang, namun Nek Nu tak kunjung muncul juga. Gadis itu memandang amplop yang berisi sumbangan dari teman-teman puskesmas, lalu dimasukkan kembali amplop itu ke dalam laci meja kerja. Ia kunci laci tersebut, mungkin hari ini Nek Nu berhalangan datang.
Keesokan harinya, Lantana piket malam hari, ia telah menitipkan surat keramat untuk Nek Nu pada seorang teman. Ia kecewa saat sang teman mengatakan nenek itu belum mengambil surat keramat yang sangat ia inginkan itu. Begitu pun dengan hari-hari selanjutnya, sang nenek seperti lenyap ditelan bumi. (*)
Ida Fitri, lahir di Bireuen pada 25 Agustus. Tulisannya pernah terbit di Koran Tempo, Republika, Kedaulatan Rakyat, Tabloid Nova dan lain-lain. Kumcer pertamanya berjudul Air Mata Shakespeare (2016). Kumcer keduanya Cemong ( 2017)