Nek Nu menceritakan ketangguhan Syamaun saat dulu menangkap buaya bersama empat orang lelaki desa. Mereka menggunakan tali, memancing buaya keluar dari air, menjerat moncongnya lalu mengikat dengan tali.
“Anak saya dan temannya membunuh buaya itu, kemudian mengulitinya. Kulitnya mereka jual ke kabupaten.” Senyum menghias wajah keriput perempuan itu. Tak lama kemudian, mendung kembali menyelimuti paras tirus perempuan tua berkulit gelap.
“Syamaun mati diterkam buaya. Sekarang saya bingung ditagih pihak rumah sakit.” Kedua mata Nek Nu kembali berkaca-kaca. “Anak-anak Syamaun juga butuh uang sekolah.”
“Hmm …,” Petugas yang bernama Mirah menarik napas panjang, seperti yang dilakukan Bu Asiah kemarin. Selanjutnya, Mirah juga meminta Nek Nu kembali esok hari, karena bapak kepala masih tugas luar. Lagi perempuan tua itu berjalan keluar dari gedung bercat putih itu dengan kecewa menikam ulu hati. Sebelum sampai di pintu keluar, ia berbalik, “Apakah besok Bapak Kepala masuk?”
“Iya, Nek. Besok Bapak kepala masuk.”
Esoknya NekNu kembali datang. Lantana yang menemui perempuan itu mencatat data-data yang dibutuhkan untuk mengeluarkan selembar surat keramat. Hanya surat itu tak bisa siap hari ini, karena Bapak kepala masih harus tugas di luar. Lantana meminta perempuan tua itu datang lagi keesokan harinya. Nek Nu menginyakan dan berterima kasih kepada Lantana yang telah mengetikkan surat untuk dirinya.
Sebelum pulang, Nek Nu bercerita tentang anaknya yang sanggup menyelam lama ke dasar sungai guna mengambil kejing. Sesekali ia tersenyum mebayangkan saat sang anak lelaki masih hidup dulu. Anak yang kerap membawakan sirih dan tembakau untuknya. Anak yang patuh dan membahagiakan dirinya.
Paras Nek Nu kembali sendu saat menceritakan kehidupannya sekarang. Ia menjadi pembelah pinang orang kaya di desa. Umur tuanya sangat menghambat pekerjaannya itu. Tapi mereka masih bisa tetap makan. Ia mulai menjual apa yang ada agar bisa membeli baju sekolah cucu-cucunya. Istri Syamaun sudah menikah dengan lelaki dari desa tetangga. Suami baru dari menantunya keberatan kalau anak-anak Syamaun ikut tinggal dengan mereka.
“Maaf, Nyak. Saya telah bercerita banyak.”
“Tak apa, Nek,” balas Lantana dari depan komputer.
Lalu dengan langkah gontai, perempuan tua itu kembali meninggalkan puskesmas.
***