Nek Nu

Belum sempat Nek Nu menjawab, seorang petugas berseragam putih dengan jilbab melambai ke luar dari dinding depan Puskesmas. Perempuan yang berumur kurang lebih empat puluh itu tersenyum, “Ada yang bisa kami bantu, Nek?” tanya perempuan itu ramah tamah.

Nenek itu kembali menunjukkan kertas yang diberikan kepada Lantana tadi. Dan kembali menceritakan hal yang sama, tentang biaya yang diminta pihak rumah sakit kabupaten, atau pembayaran asuransi kesehatan yang konon katanya ditanggung negara itu.

“Oh, ini karena Nek Nu mendaftar di pihak berbayar dulunya,” ujar perempuan itu tanpa beban.

“Saya tidak mengerti kenapa bisa terdaftar di sana, Bu. Saya juga tidak punya uang untuk membayar itu. Tidak bisakah pihak rumah sakit ini memberikan selembar surat keramat.”

“Benar, Bu Asiah. Kasihan nenek ini,” tambah Lantana yang sedari tadi diam saja.

Terdengar suara mobil berhenti di luar puskesmas, kemudian dua orang dengan wajah penuh darah dibopong masuk. “Sebentar, Nek. Ada kecelakaan.” Lantana menyongsong orang itu dengan mendorong brangkal, sementara Bu Asiah membawa kursi roda ke pasien yang terlihat tidak terlalu parah. Kemudian kedua korban kecelakaan itu disorong ke ruang unit gawat darurat.

Setelah satu jam, Bu Asiah kembali menemui Nek Nu yang masih termangu di kursi tunggu. Perempuan tua itu juga terlihat terpukul dengan korban kecelakaan yang dibawa tadi.

“Saya tidak bisa membuat keputusan untuk hal ini. Bapak Kepala sedang tugas luar. Sebaiknya Nek Nu kembali besok saja. Biar Nek Nu bisa bertemu langsung dengan Bapak Kepala,” ujar Bu Asiah sambil meminta maaf karena telah membuat sang nenek menunggu lama.

Nek Nu pamit. Dengan langkah gemetar, ia meninggalkan tempat itu.

***

Esok hari, saat matahari beranjak dari peraduan malam, Nek Nu sudah berada di depan Puskesmas. Ia menunggu bapak kepala, berharap masalahnya bisa terpecahkan. Kali ini ia bertemu dengan seorang petugas yang memakai jilbab biru langit, petugas itu bernama Mirah.

Arsip Cerpen di Indonesia